Terkait Persoalan Kerusakan Alam, Ini Jawaban Islam

Selasa, 23 Januari 2018

ISLAMNUSANTARA.COM – Beberapa minggu ini, izin yang diterbitkan oleh Kementerian ESDM atas eksploitasi sumber daya alam di tiga kabupaten yaitu Hulu Sungai Tengah, Tabalong dan Balangan di Kalimantan Selatan mendapat aksi penolakan dari masyarakat. Hulu Sungai Tengah diklaim benteng terakhir dari pegunungan Meratus, notebene sebagai lahan terakhir yang perlu dilindungi untuk kemashlahatan bersama masyarakat Kalimantan Selatan.

Pengumpulan tanda tangan virtual untuk menolak tambang batubara pun dilakukan sebagai salah satu aksi protes warga atas izin tersebut. Demonstrasi pun terjadi di beberapa daerah dan dilakukan oleh beberapa elemen masyarakat. Dalam memandang persoalan ekologi ini, saya akan mencoba meninjaunya dari sudut pandang Marxisme dan Islam.

Karl Marx yang memiliki kecenderungan materialisme, menelurkan sebuah konsep “metabolisme” dalam memandang hubungan antara manusia dengan alam. Marx menuliskan konsep ini sebagai kritik dari pemikiran kelas borjuis memandang alam hanya sebagai alat pemuas kebutuhan hidup manusia, tanpa melihat hubungan manusia dengan alam itu sendiri.

Mansour Fakih pernah menuliskan analisisnya akan terjadinya penjarahan dan penghisapan alam kita atas nama pembangunanisme. Sejak era penjajahan fisik telah selesai di era pasca kolonial, ada perubahan bentuk yaitu penjajahan ideologi dan teori pembangunan. Di era pembangunanisme inilah, terjadi persoalan yang dialami kebanyakan negara dunia ketiga, Negara yang seharusnya menjadi ujung tombak menjaga, melindungi dan melestarikan lingkungan, malah berubah menjadi otoriter yang sering mengatasnamakan pembangunan atau kepentingan manusia dan kepentingan nasional dalam menguras kekayaan alam.

Segala sumber daya yang tersedia di alam ini, seakan-akan dipandang sebagai komoditas kehidupan manusia. Penguasaan sumber daya alam ala Baconian inilah yang ditentang oleh Karl Marx. Relasi antara alam dan manusia yang seimbang adalah konsep dasar ekologi pemikir asal Jerman ini.

Ada ayat yang menyebutkan bahwa “kerusakan di alam ini disebabkan oleh sebab tangan manusia”. kata “sebab tangan manusia” jika kita terjemahkan secara bebas bisa dimaknai dengan terputusnya relasi manusia dengan alam yang dia tinggali selama ini. Kerusakan relasi inilah yang menyebabkan manusia dengan sadis menghisap, merusak, menyedot kekayaan alam ini. Sebagaimana disebutkan di atas, “metabolisme” adalah konsep relasi yang diinginkan oleh Karl Marx. Di mana hubungan manusia dan alam tidaklah satu arah, namun masing memiliki kapasitas untuk saling mempengaruhi.

Hubungan saling mempengaruhi inilah menjadi fondasi dari ekologi Karl Marx, teori “metabolisme” yang cukup rumit ini berpangkal tulisan Karl Marx di tahun 1844, manusia hidup dalam alam atau alam adalah tubuhnya, dan ia harus mempertahankan dialog dengan alam jika manusia tidak ingin mati. Untuk mengatakan bahwa secara kehidupan fisik dan mental manusia terhubung dengan alam sama seperti alam terhubungan dengan dirinya sendiri, di mana manusia alaha bagian dari alam. Dalam tulisan ini, Marx menegaskan bahwa manusia harus menjaga hubungannya dengan alam. Di mana selama ini, dengan hubungan antagonistik antara desa -kota yang melegalakan perampokan atas kekayaan sumber daya alam yang melimpah di desa atas dasar “pembangunan”.

Atas perampokan inilah terjadi apa yang disebut Marx “keretakan metabolisme”, di mana alam tidak bisa lagi menyembuhkan dirinya sebab pengikisan atau penghisapan yang tiada henti dan tak lagi membuat alam ini seimbang. Kualitas alam yang kita diami ini semakin berkurang dan sulit untuk sembuh. Kehancuran seakan-akan nyata di depan mata. Di sinilah manusia seharusnya sadar bahwa ada sebuah tugas yang mulia yaitu menjaga alam ini.

Dalam kitab suci kita, Alquran menyebutkan salah satu tugas manusia di alam ini adalah “khalifah”. Kata yang bisa bermakna pemimpin juga penjaga di bumi. Manusia yang terlahir di dunia sebagai bagian dari kasih sayang Tuhan sudah seharusnya menjadikan dunia ini tempat yang lebih baik. Inilah sebenarnya tugas kemanusiaan dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Tugas kemanusiaan ini selalu akan berhadapan dengan kepentingan kapitalisme untuk memaksimalkan keuntungan.

Kalimantan Selatan yang dikenal sebagai daerah agamis begitulah kata orang kepada kita, maka sudahlah menjadi kewajaran bahwa kita sebagai anggota masyarakat yang merasa beriman dan beragama yang baik maka ikut turun berjuang untuk melawan penambangan sumber daya di daerah pegunungan yang selama ini menyediakan banyak hal kepada masyarakat Kalimantan Selatan. Janganlah cuma berpangku tangan karena itulah dosa yang sebenarnya menurut Farid Esack.

Farid Esack menegaskan juga bahwa urusan kemanusiaan adalah urusan kita semua bukan urusan satu golongan. Jadi marilah kita sama-sama bersatu untuk melawan krisis ekologi ini. Karena apabila suara kita menjadi satu saat melawan krisis ini maka suara itu kemungkinan besar akan didengar.

Pegunugan Meratus telah menangis, apa yang harus kita lakukan? (ISNU)

Ditulis oleh Supriansyah, Penulis adalah penggiat isu-isu kedamaian dan sosial di Kindai Institute di Banjarmasin.

Sumber: Islami.co

No Responses

Tinggalkan Balasan