Jika Masyarakat Cermat, Maka Hoaks Akan Minggat

Rabu, 17 Oktober 2018

ISLAMNUSANTARA.COM, Jakarta – Perputaran hoak dan kebencian di media sosial semakin liar. Serangannya langsung menghujam di otak hingga mengacaukan akal sehat. Kebenaran tersingkirkan, digantikan kebohongan yang pekat. Udara dusta inilah yang setiap hari, secara sadar maupun tidak sadar, dihirup dan akhirnya menjadi katalisator dari perilaku dan tindakan perselisihan yang tiada henti. Dalam jangka panjang,  lapis-lapis dusta akan menebal dan mengerak, menyumbat aliran kebenaran dalam dirinya. Hamba hoaks niscaya akan kesulitan membedakan antara kebenaran dan kebohongan. Dirinya mengidap penyakit rabun kebenaran. Hal inilah yang perlu mendapat perhatian kita bersama. Jangan sampai wabah hoaks menular di masyarakat.

Ada beberapa hal yang menyebabkan masyarakat semakin hobi mengkonsumsi hoaks. Pertama, hoaks dianggap sebagai salah satu cara untuk dalam mempertahankan diri. Dan ini merupakan insting purba setiap manusia. Orang yang sedang terkena suatu penyakit, akan mudah percaya dengan hoaks tentang obat-obatan yang akan menyembuhkannya. Mereka yang ingin sukses, mudah saja melahap hoaks mengenai cara untuk menggapai kesuksesan. Tentu saja, tidak ada yang salah dengan keinginan individu untuk sehat dan sukses. Tetapi masalahnya, percaya begitu saja dengan hoaks justru akan menyebabkan seseorang makin terjerumus dalam masalah yang dihadapinya. Misalnya, hoaks tentang penyembuhan alternatif bisa saja berpotensi memperparah penyakitnya. Begitu pun dengan hoaks kesuksesan, hoaks politik, dsb.

Kedua, badai hoaks semakin menerjang akibat literasi digital masyarakat yang masih lemah. Kecanggihan teknologi dan perkembangan media sosial kurang dibarengi dengan kepintaran otak untuk memilah dan memilih informasi. Disiplin verifikasi pun kerap diabaikan. Baru saja membaca judul berita yang seksi dan bombastis, langsung dibagikan ke grup medsos lain. Keengganan inilah yang mengakibatkan semakin banyak orang yang memproduksi hoaks dan pada saat yang bersamaan, semakin banyak pihak menjadi korban hoaks. Hingga akhirnya, masyarakat semakin permisif dengan hoaks dan menjadikannya sebagai hal yang normal (meskipun sebenarnya sangat merusak dan menghancurkan).

Curiosity (rasa ingin tahu) adalah penyebab ketiga meningkatnya peredaran hoaks di masyarakat. Sifat penasaran adalah hal yang baik dalam diri manusia karena menjadi daya dorong untuk menemukan hal-hal yang baru. Tetapi rasa ingin tahu yang berlebihan dan tanpa kontrol akan menyebabkan kita terjerembab dalam lilitan hoaks. Contohnya, ketika mendapatkan broadcast ada petinggi negeri yang terlibat dalam organisasi terlarang, kita akan penasaran dan ingin tahu siapa petinggi tersebut. Meskipun setelah ditelusuri dan dicermati, tidak ada data pendukung yang dapat membenarkan informasi tersebut. Bagi mereka yang malas untuk berpikir, sebaris judul saja sudah cukup untuk membuatnya percaya dan membagikannya kepada orang lain. Nah, orang-orang seperti inilah yang perlu diluruskan agar tidak menjadi agen hoaks.

Belajar dari beberapa kasus hoaks terakhir, baik yang dilakukan oleh aktivis politik, buzzer, maupun masyarakat biasa, dapat menjadi pijakan bersama agar tidak lagi mudah menjadi penyambung lidah hoaks. Bahwa siapapun bisa menjadi korban hoaks, sekaligus siapapun dapat menjadi produsen hoaks. Tidak ada yang kebal darinya. Pejabat, rakyat jelata, pengusaha, buruh, agamawan, semua tidak imun terhadap hoaks. Pergerakan laten hoaks kerap menjadikan kita kurang sadar, bahwa dia telah menjadi bagian dalam diri kita. Maka, perang lawan hoaks tidak boleh melemah, harus terus dikuatkan dan diintensifkan. Jangan biarkan gadget di tangan menjadi sarana menyebarkan kebohongan, tetapi wajib dimanfaatkan menyebarkan informasi yang menginspirasi dan menjunjung tinggi kebenaran.

Untuk memusnahkan hoaks, perlu dilakukan dari hulu ke hilir. Di titik hulu, kita percayakan kepada penegak hukum untuk terus membongkar pembuat konten hoaks. Sementara di titik hilir, ada beberapa tips yang bisa dilakukan untuk mencegah peredaran hoaks. Saat menerima atau membaca informasi, biarkan mengendap selama 5-10 menit. Biarkan otak mencernanya dengan baik. Banyak didapati kejadian, baru saja menerima informasi, sudah langsung disebarkan. Cepat sekali jemari bergerak menekan tombol share. Setelah tersebar, baru menyadari bahwa informasi tersebut hoaks. Setelah lima hingga sepuluh menit, cari informasi pembanding dari dua sumber lain yang berbeda. Tujuannya mendapatkan informasi yang lebih lengkap dan sudut pandang lain. Setelahnya, lakukan beberapa kritik terhadap informasi tersebut. Jika berasal dari sumber yang tidak valid, pasti memiliki banyak kelemahan. Tahap terakhir, biarkan otak kembali berpikir dan menyimpulkan kebenaran tersebut. Dengan langkah-langkah ini, kita dapat menekan agar hoaks tidak mengendap dan meracuni pikiran. (ISNU)

Ditulis oleh Rachmanto, Alumnus Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM.

Sumber: Harakatuna

No Responses

Tinggalkan Balasan