Inilah 5 Pernyataan Sikap Para Tokoh Agama Terkait Tragedi Rohingya

Sabtu, 23 September 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Jakarta – Para pemuka agama menyatakan sikap soal tragedi yang terjadi di Rakhine state, yang menimpa Rohingya, Myanmar. Pernyataan sikap yang mewakili PBNU, KWI, PGI, Walubi/NSI, Matakin, PHDI tersebut dilakukan di gedung PBNU, Jakarta, Jumat (22/9).

Pernyataan sikap yang dibacakan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj adalah sebagai berikut:

  1. Mengutuk dan mengecam segala bentuk kekerasan. Tindakan kekerasan adalah tindakan yang mencederai kemanusiaan. Apapun alasannya, hal tersebut sama sekali tidak dibernakan oleh agama dan keyakinan mana pun.
  2. Mengapresiasi dan mendukung penuh langkah pemerintah, dalam hal ini Presiden Jokowi dan juga Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam rangka mengupayakan solusi untuk mengatasi tragedi kemanusiaan yang terjadi di Rohingya. Langkah tersebut merupakan langkah kongrit dan sigap dalam menyikapi tragedi yang sedang berlangsung.
  3. Mendesak seluruh elemen internasional, PBB dan ASEAN untuk bersama lebih proaktif mencari langkah dan solusi dalam menyelesaikan tragedi kemanusiaan yang sedang terjadi.
  4. Mengajak seluruh elemen untuk tidak terprovokasi oleh pihak-pihak yang mengatasnamakan konflik yang terjadi dengan menyeret agama dan keyakinan tertentu. Apa yang terjadi di Rohingya adalah tragedi kemanusiaa. Kita harus meletakkannya dalam kaca mata kemanusiaan tanpa pernah tersekat dan terkotak oleh keyakinan tertentu.

Apa yang terjadi di Rohingya, lebih kompleks dari hanya sekeadar simplifikasi isu soal agama. Di sana ada perebutan sumber daya dan juga ada pertarungan politik. Maka, yang peling tepat adalah mendudukkan tergedi di Rohingya sebagai tragedi kemanusiaan.

  1. Menyerukan kepada seluruh umat beragama untuk berpartisipasi aktif dalam menggalang donasi dan bantuan kemanusiaan kepada korban tragedi kemanusiaan di Rohingya. Langkah paling bijaksana dan nyata sekaligus dibutuhkan oleh korban saat ini adalah bantuan berupa makanan, sarana kesehatan, dan juga sarana pendidikan.

Jakarta, 22 September 2017

ttd

Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA (PBNU)

Pendrat Siagian (PGI)

Romo Agustinus Ulahayana (KWI)

Drs. Uung Sendana (Matakin)

MPU Suhadi Sendjaja (NSI/Walubi)

(ISNU)

Sumber: NU Online

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: