Habib Luthfi: Betapa Banyak Jasa Ulama yang Terlupakan

Rabu, 11 Oktober 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Pekalongan – Banyak teladan para ulama, kiai, dan tokoh masyarakat Pekalongan yang semasa hidupnya memiliki andil besar terhadap bangsa yang tidak tertulis sehingga generasi sekarang kematian obor. Mereka kehilangan jejak sejarah yang sangat penting bagi kehidupan bangsa yang disebabkan oleh sedikitnya literatur sebagai referensi atau memang karena malas untuk menulis.

Keprihatinan itu disampaikan Rais Am Idaroh Aliah Jam’iyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) Habib Luthfi bin Yahya dalam acara khotmatul kubro ke-2 yang diselenggarakan oleh Jamaah Muqoddam dan Munajat (Jamumu) NU Ranting Landungsari Kota Pekalongan, Senin (10/10).

Kegagapan masyarakat masa kini yang tidak kenal lagi dengan tokoh-tokoh yang berjasa bagi masyarakat sendiri menjadikan masyarakat tidak lagi kenal dan tahu akan jasa-jasa besarnya yang diakibatkan oleh minimnya penulis dan sumber literatur yang ada.

“Kita ini punya banyak tokoh, masyarakat Landungsari ini punya banyak tokoh yang luar biasa. Tetapi, sangat sedikit tulisan mengenai tokoh-tokoh itu, sangat sedikit yang mau menuliskannya,” ujarnya.

Habib Luthfy mengimbau agar generasi sekarang tidak ‘kepaten obor’. Ia menganjurkan penggalakan penulisan tentang tokoh-tokoh lokal. Sebab menurutnya, tanpa sumber tertulis maka sejarah hanya akan menjadi cerita omong kosong.

Habib Luthfy memperkirakan, saat ini ada 25 orang hafizhul Qur’an yang dimakamkan di makam Landungsari. Tetapi sangat sedikit yang diketahui siapa saja para huffadz itu karena hampir tidak ditemukan profil para huffadz yang pernah jaya di masanya.

Jamumu adalah kelompok gerakan membaca Al-Qur’an serta munajat di Ranting NU Landungsari Kota Pekalongan. Gerakan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya menyemarakkan syiar Al-Qur’an di tengah masyarakat dengan tujuan agar tradisi membaca Al-Qur’an mampu kembali dihidupkan hingga tiap tiap keluarga.

Selain kegiatan khataman, Jamumu juga melakukan penggalangan dana sosial yang dialokasikan bagi seluruh anggota masyarakat yang terkena musibah. Penggalangan dana ini sekaligus menjadi bagian upaya dakwah sosial dalam rangka mempererat tali silaturrahim antarwarga. pendidikan Agama Islam di sekolah-sekolah kita merawat keragaman,” kata Kamaruddin Amin. (ISNU)

Sumber: NU Online

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: