Sebelum Gus Yahya, Gus Dur Juga Pernah Hadiri Undangan Israel Demi Palestina

Selasa, 12 Juni 2018

ISLAMNUSANTARA.COM, Jakarta – Polemik orang NU memenuhi undangan kaum Yahudi di Israel untuk menjadi pembicara kembali mencuat setelah Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf bersedia hadir di American Jewish Committee (AJC) Global Forum di Yerusalem, 10-12 Juni 2018.

Sebelum Gus Yahya, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah diundang oleh Forum Global AJC pada 2002 silam di Washington DC, Amerika Serikat. Bahkan, Gus Dur pernah menjadi pembicara utama di forum tertinggi, Kongres Yahudi.

Saat itu, Gus Dur juga mendapat kecaman dari masyarakat di dalam negeri terkait kehadirannya di forum umat Yahudi. Namun, Gus Dur melihat tujuan yang lebih luas, yakni diplomasi kultural untuk mewujudkan perdamaian Palestina dan Israel. Terutama untuk kedaulatan rakyat Palestina dari aksi-aksi militer Israel.

Terkait langkah Gus Dur tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin Caringin, Bogor KH M. Luqman Hakim mengisahkan bahwa dirinya pernah bertanya langsung kepada Gus Dur perihal cara dirinya mendamaikan Palestina dan Israel.

“Saya pernah ngobrol dengan Gus Dur soal bagaimana cara beliau mendamaikan Israel-Palestina. Dan jawaban Gus Dur diluar dugaan saya, sangat strategis, jenius, dan kultural sekali,” ungkap Kiai Luqman, Senin (11/6) tanpa menjelaskan lebih lanjut pernyataan Gus Dur dimaksud.

Direktur Sufi Center Jakarta ini juga mengemukakan, langkah untuk mendamaikan Palestina-Israel juga Gus Dur lakukan ketika melakukan usaha yang sama saat Gus Dur berupaya mendamaikan Serbia dan Bosnia di Eropa.

“Cara yang Gus Dur lakukan untuk Palestina-Israel sebagaimana saat Gus Dur mendamaikan Bosnia-Serbia tanpa disorot media, tetapi beres. Hmm…seorang wali tak butuh narsis,” ujar Kiai Luqman.

Lebih lanjut, Kiai Luqman menegaskan, praktik Piagam Madinah di tingkat global dan nasional dewasa ini tidak lepas dari peran Gus Dur dalam menyadarkan umat Islam dan kemanusiaan secara mondial (berkaitan dengan dunia) dalam membangun peradaban dunia.

“Kekerasan, kebuasan, dan antikemanusiaan adalah representasi era jahiliyah,” tegasnya.

Menurut kiai yang juga Pakar Tasawuf ini, kalau ada yang belum paham Piagam Madinah, ia mempersilakan bagi siapa saja untuk membaca kembali Tarikh Islam atau sejarah Islam agar memahami dengan benar.

“Jika masih ada yang kontra Gus Dur dan Gus Yahya, silakan saja. Paling keduanya hanya menjawab: Ya Allah hidayahi mereka, sesungguhnya mereka tidak mengetahui (berpengetahuan),” cetus Kiai Luqman.  (ISNU)

Sumber: NU Online

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: