Rais Syuriah PWNU Jatim: Caci Maki Negara Sendiri Berarti Tidak Menghargai Jasa Pahlawan

Sabtu, 19 Agustus 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Malang – Pondok Pesantren Sabilurrosyad Gasek Malang menggelar upacara untuk memperingati Hari Kemerdekaan RI ke- 72. Dalam upacara tersebut terdapat keunikan khas pesantren, yakni semua santri mengenakan sarung dan baju koko.

Bukan hanya itu, dalam upacara di pesantren yang beralamat di Jalan Candi 6C Karangbesuki Gasek Sukun ini, mereka juga melengkapi dengan berbagai aksesoris ala santri yakni mengenakan sandal jepit dan kopiah hitam.

Upacara yang digelar sejak jam 07.00 pagi itu berjalan dengan khidmat. Bahkan Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH Marzuqi Mustamar yang berkesempatan menjadi pembina upacara terlihat berkaca-kaca diikuti oleh seluruh petugas dan peserta upacara. Pekik Merdeka, lantunan Indonesia Raya dan Sholawat menambah semangat nasionalisme seluruh yang hadir.

Dalam amanatnya, KH Marzuqi Mustamar menyampaikan bahwa kemerdekaan itu memiliki arti penting, bukan hanya dalam memperingatinya, namun lebih dari itu bagaimana kita mengisi kemerdekaan itu sendiri.

“Pertama yang perlu saya sampaikan, mereka yang tidak menghargai kemerdekaan, bahkan ada yang memaki-maki negaranya sendiri, itu sama saja tidak menghargai jasa para pahlawan yang di antaranya adalah para ulama,” ucapnya.

Yang kedua, lanjut Kiai Marzuqi, dulu di zaman penjajahan masyarakat sulit untuk bekerja, sulit menuntut ilmu, diskriminasi dimana-mana, rawan dengan pertikaian dan perpecahan. Berkat kemerdekaanlah semua hal itu bisa dihapuskan dari bumi NKRI.

“Maka dari itu, kalau hari ini masih banyak pertikaian sesama anak bangsa sendiri apa kita bisa disebut merdeka,” sindirinya.

Selain itu, masih kata Kiai Marzuqi, yang ketiga untuk mensyukuri kemerdekaan tidak cukup hanya dengan peringatan, namun juga harus dengan tindakan. Caranya, marilah yang  bekerja melakukan tugasnya dengan serius, begitu juga yang menuntut ilmu.

Yang difikirkan bangsa saat ini seharusnya adalah, bagaimana agar Indonesia bisa swasembada secara ekonomi dan tidak bergantung pada bangsa lain. Di bidang sains dan ilmu pengetahuan juga harus dikuasai agar tidak tertinggal oleh bangsa lain.

“Dan yang terakhir, sesama anak bangsa jangan sampai berpecah belah. Mari kita kuatkan persatuan kita,” pungkasnya.

Sementara itu, pasca upacara seluruh peserta berkumpul untuk makan secara mayoran (makan bersama-sama dalam satu wadah dan makan menggunakan tangan). Menurut Lurah Pondok Pesantren Gasek Gus Muhammad Ridwan hal ini dilakukan untuk menguatkan tradisi gotong royong masyarakat.

“Ya, ini sudah jadi kebiasaan kita. Tujuannya agar rasa kekeluargaan dan gotong royong terus ada dalam benak kita,” terangnya. (ISNU)

Sumber: Muslimoderat

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: