Rais Aam PBNU: Amar Ma’ruf Nahi Mungkar Tidak Harus dengan Kekerasan

Rabu, 04 Oktober 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Jakarta – Tema perjuangan dan pergerakan organisasi Nahdlatul Ulama (NU) sejak didirikan hingga kini, tidak lepas dari amar ma’ruf nahi munkar. Namun, amar ma’ruf nahi munkarnya NU dengan cara santun, lemah lembut atau layyinan.

Hal itu ditegaskan oleh Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin di gedung PBNU, Jakarta, Senin (2/10) ketika ditanya bagaimana NU melakukakan amar ma’ruf nahi munkar.

“Saya sering bicara dengan Presiden dengan Kapolri, amar ma’ruf itu dilakukan dengan cara santun,” katanya.

Menurut Ketua MUI tersebut, amar ma’ruf nahi munkar adalah bagian agama sehingga menjadi tugas umat Islam, termasuk warga NU.

Cuma, kata dia, dalam menjalankannya bisa jadi dengan cara beda. Ada kelompok di luar NU yang melakukannya dengan cara berteriak-teriak atau demontrasi. Cara semacam itu tidak mutlak berhasil.

“Tatapi dengan pendekatan yang santun, pendekatan kesadaran, dengan penuh toleran, itu justru banyak perubahan, dan memberikan manfaat, pengaruh yang besar. Itu yang dilakukan NU selama ini,” lanjutnya.

Sewaktu-waktu warga NU mungkin juga melakukan cara-cara yang tegas dengan terkontrol, tapi tidak harus selalu begitu.

“Jadi, amar ma’ruf itu bagaimana memerintahkan kebaikan dan mencegah kemunkaran. Mencegah kemunkaran tidak harus dengan cara keras, dengan cara demonstrasi, tapi dengan santun, konstitusional, demokratis, tapi arahnya kita mencegah dan terjadi perubahan-perubahan,” jelasnya.

NU melakukan cara-cara seperti itu, sambungnya, sebagai upaya mencegah benturan-benturan antarkelompok, misalnya antara kelompok nasionalis dengan Islam dan kelompok-kelompok lain.

“Ternyata yang bisa mengharamonisasikan kan NU,” pungkasnya. (ISNU)

Sumber: NU Online

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: