Perkuat Jalinan Silaturahmi, Keluarga Besar Gus Dur dan Mbah Moen Saling Mengunjungi

Rabu, 21 Februari 2018

ISLAMNUSANTARA.COM, Rembang – Keluarga besar Gus Dur melakukan kunjungan balasan ke kediaman KH Maimoen Zubair di Sarang, Rembang, Selasa (20/2) setelah sebulan sebelumnya, keluarga Mbah Moen bekunjung ke Ciganjur, Jakarta Selatan.

Pertemuan dua keluarga besar almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan keluarga besar KH Maimoen Zubair (Mbah Moen) di Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang berlangsung guyub dan penuh kekeluargaan.

Menurut Ibu Sinta Nuriyah Wahid, kunjungan dirinya bersama putrinya Anita Wahid ke kediaman Mbah Moen merupakan kunjungan balasan setelah sebulan sebelumnya, Mbah Moen bersama keluarga besar berkunjung ke kediamannya di Ciganjur, Jakarta Selatan.

“Sebenarnya saya sudah lama berencana untuk datang kemari (Sarang-red), tapi kebetulan selalu berbenturan dengan jadwal Mbah Moen yang sering bepergian. Nah kemarin tiba-tiba malah Mbah Moen datang ke rumah, makanya ini merupakan balasan silaturahmi saya,” ungkap Sinta di sela-sela pertemuan.

Sementara menurut Wakil Ketua Umum DPP PPP Arwani Thomafi (Gus Aang) yang turut serta dalam pertemuan tersebut menyebutkan dalam pertemuan tersebut menunjukkan kedekatan hubungan antar keluarga besar yang terajut cukup lama.

“Tadi Mbah Moen cerita soal sejarah berdirinya Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang. Tak lupa Mbah Moen juga mengenang, Gus Dur sebelum kuliah ke Mesir sempat ikut pengajian sorogan dengan mengaji kitab ‘Al-Adzkar An-Nawawi’,” kata Arwani.

Menurutnya, pertemuan antara kedua keluarga besar tersebut menunjukkan keluhuran akhlak kedua keluarga besar dari kalangan pesantren tersebut. Gus Aang menyebutkan, tradisi saling berkunjung merupakan tradisi di kalangan santri. “Pertemuan ini murni kekeluargaan. Tidak ada tema politik,” kata A’wan PCNU Lasem tersebut.

Selain berkunjung ke kediaman Mbah Moen, Ibu Sinta juga menggelar diskusi dengan civitas akademika STAI Al-Anwar Sarang, dan para santri. Dalam dialog yang mengangkat tema Santri Putri Ideal Indonesia itu, Ibu Sinta mengajak para santri dan mahasiswa untuk meneladani perjuangan Gus Dur yang selalu menemani orang yang menderita dan tersisih.

Di akhir pertemuan, Ibu Sinta memimpin bacaan syair yang populer di kalangan pesantren yakni Syair Al-I’tiraf (ilahi lastu lil firdaus) karangan Abu Nawas sebanyak tiga kali dan diikuti serentak oleh para santri dan civitas akademika STAI Al-Anwar Sarang.(ISNU)

Sumber: NU Online

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: