Perang Radikalisme di Kampus, Dosen NU Harus Lantang Gaungkan Islam Moderat

Senin, 16 Juli 2018

ISLAMNUSANTARA.COM, Jombang – Maraknya aksi radikalisme di kalangan kampus membuat banyak pihak prihatin. Mahasiswa yang diharapkan menjadi generasi penerus bangsa yang berilmu dan berkarakter justru menjadi sumber kerusakan ditengah masyarakat.

Menurut Dosen Universitas KH Wahab Hasbullah (Unwaha) Jombang, Akhmad Kanzul Fikri, maraknya gerakan radikalisme di kampus menjadi semacam katalisator bagi perguruan tinggi untuk menyaring terhadap semua komponen baik dari unsur dosen, mahasiswa dan sistem yang ada. Menyaring dalam arti mengantisipasi ajaran yang mendahulukan kekerasan dan menggantinya dengan ajaran penuh cinta.

“Kemarin ratusan dosen yang tergabung dalam Asosiasi Dosen Aswaja dan NU (Asdanu) berkumpul di Unwaha Jombang berdiskusi terkait strategi menyebarkan Islam moderat ala Nahdlatul Ulama di perguruan tinggi. Perkumpulan ini karena kami prihatin melihat kampus yang berpotensi menjadi sarang terorisme seperti di Riau. Ini bukan musibah tapi tantangan agar kita lebih kreatif dalam berdakwah,” jelasnya, Ahad (15/7).

Pria yang juga pengasuh Pondok Pesantren Al Aqobah, Jombang, ini berharap kampus lebih bijak dalam mengizinkan setiap kegiatan yang dilakukan mahasiswa. Bijak yang bearti tidak mengekang kegiatan mahasiswa namun mendampingi kegiatan para mahasiswa. Dosen tidak hanya bertugas menyampaikan materi kuliah tapi juga menyelipkan pesan damai.

Dengan mendampingi setiap kegiatan mahasiswa, para dosen tahu dan faham apa saja yang dilakukan mahasiswa. Dengan begitu para dosen dan kampus lebih mudah mengambil keputusan untuk mengizinkan kegiatan mahasiswa atau izin bersyarat.

“Dalam ranah akademik, sudah menjadi kelaziman jika kampus secara konsisten menggaungkan nilai-nilai dasar empat pilar kebangsaan yakni Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI. Bahkan baru-baru ini Menristekdikti Mohammad Natsir pernah mengatakan  ada tujuh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang berpotensi menjadi tempat bersemayamnya benih ajaran terorisme. Ini perlu disikapi oleh kampus dan dosen di semua kampus yang ada,” bebernya.

Ia menambahkan, dosen terutama yang tergabung dalam Asdanu perlu lebih gencar lagi menggaungkan konsep Islam wasathiyah (Islam modern) yang selaras dengan kultur Indonesia. Hal ini guna mengurangi gerakan masif dari Islam intoleransi atau radikalisme.

Selanjutnya diharapkan para mahasiswa terbiasa bersikap menghargai perbedaan serta menghormati orang yang memiliki prinsip hidup yang tidak sama. Menghormati tak berarti selalu harus membenarkan perbuatan tersebut. Namun, lebih pada menjaga kerukunan dalam bersosial.

“Islam intoleran menyasar anak muda karena mereka mudah dipengaruhi dan masih haus akan ilmu pengatuhuan. Mereka berada dalam persimpangan jalan. Bila tanpa bimbingan orang dewasa maka mereka bisa menjadi sel-sel perusak,” ujarnya.

Gerakan kekerasan mengatasnamakan Islam, kata dia, mulai marak pascalengsernya Soeharto dari kursi presiden. Demokrasi membuat berbagai ideologi bebas berkembang di Indonesia hingga kini.

“Pascalengsernya Presiden Soeharto banyak ideologi transnasionalisme yang masuk ke Indonesia dan berkembang di kampus-kampus. Ideologi ini kadang membuat generasi muda latah dan lupa budaya asli Indonesia. Mereka mulai saling menyalah kan dan mengasingkan diri. Solusinya para dosen dan pihak kampus harus mengajarkan tiga pokok utama dalam beragama yakni at-tawasuth (moderat), at-tawazun (seimbang) dan al-i’tidal (tegak lurus),” pungkas Fikri. (ISNU)

Sumber: NU Online

No Responses

Tinggalkan Balasan