Moeldoko: Masyarakat Sudah Menyadari Bahaya Radikalisme dan Ekstremise

Minggu, 18 Februari 2018

ISLAMNUSANTARA.COM, Jakarta – Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengatakan bahwa masyarakat sudah menyadari bahaya ancaman radikalisme dan ekstrimisme. Taruhannya adalah bangunan kehidupan berbangsa dan bernegara yang makin terkoyak. Kita tak boleh lagi diam.

Persoalan radikalisme dan ekstrimisme saat ini sudah pada taraf ancaman yang dapat mengganggu keutuhan negara. Menjadi sulit mengatasinya karena selama ini terkesan aparat negara membiarkan itu terjadi dan terlambat menanggulangi.

“Sejak reformasi 1998 kita sepakat dengan demokrasi. Tapi demokrasi saat ini sudah kebablasan, sebebas-bebasnya. Apalagi banyak yang berlindung di balik HAM. Dulu kalau mendengar kata SARA kita sudah begitu takut, tapi sekarang banyak orang yang terang-terangan melakukan tindakan SARA,” begitu kata kunci yang disampaikan Moeldoko di depan sekitar 150 peserta diskusi publik bertema “Tantangan Menanggulangi Radikalisme dan Ekstrimisme” di Ruang Rapat Utama Kantor Staf Presiden di Bina Graha, Jakarta, Rabu (14/02/2018).

Siang itu Moeldoko didampingi Deputi IV KSP Eko Sulistyo dan dua staf KSP, Wisnuhardana dan Jojo Rahardjo. Tampak hadir di antara peserta tokoh-tokoh muda penjaga kebhinnekaan seperti Ananda Sukarlan (pianis terkenal), Maman Suherman (penggiat literasi), Andi Setiono (sejarawan), Gino Franki Hadi (wartawan), Gede Suhendra (eksekutif muda), Susy Rizki (calon legislatif), Toto Yuwono (PPS Betako Merpati Putih), Perintis Gunawan dari Rakyat Pinggiran Indonesia (Rp 1), dan Harry Fadil (Aswaja TV).

Dosen Senior FISIP Universitas Indonesia (UI) Iriani Sophiaan, yang menjadi pembicara pertama, sependapat dengan Moeldoko. Dalam penelitiannya tentang radikalisme – yang masih berlangsung – ia menemukan radikalisme makin tumbuh subur di kampus-kampus. Termasuk Kampus UI.

Menurut Mbak Errie, panggilan akrab Iriani Sophiaan, pola perekrutan dan kaderisasi kelompok-kelompok radikal di kampus-kampus mengikuti pola-pola yang pernah dilakukan NAZI dan PKI. Metode “cuci otak” itu menggunakan cara-cara yang biasa dilakukan di dunia intelijen. Sementara sistem perekrutan dan kaderisasi mirip gayanya dengan sistem perekrutan partai komunis dulu.

“Radikalisme sudah mengancam negara kita. Kampus jadi tempat yang subur, perekrutan berlangsung sejak mahasiswa baru masuk kampus pertama kali. Radikalisme ini terkait dengan politik global dan dimanfaatkan kekuatan kaum kapitalis yang selalu bermain di dua kaki,” jelas Mbak Errie, yang juga Ketua Bela Negara UI (BARA UI).

Menurut Mbak Errie, untuk mencegah radikalisme dan ekstrimisme pemerintah saat ini secara tegas mulai kembali menguatkan empat pilar fondasi negara: Pancasila, UUD ’45, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. “Saya lihat Presiden Jokowi serius menguatkan negara dari ancaman radikalisme dan ekstrimisme. Meski upaya itu terbilang cukup sulit karena selama ini terkesan ada pembiaran,” papar adik kandung Sophan Sophiaan ini yang juga mendalami kajian intelijen.

Pembicara kedua, Hasan Chabibie, dari Pustekkom Kemendikbud. Ia melihat radikalisme juga dipengaruhi banyaknya waktu yang dihabiskan anak-anak sekarang bersama gawai ketimbang belajar dan membaca buku. Tiap hari anak-anak kita selama “hampir 24 jam” memegang handphone. Hanya pada saat jam pelajaran di sekolah dan saat tidur saja mereka baru bisa lepas dari handphone.

“Dari pola hidup seperti itu mereka banyak menemukan informasi tanpa bimbingan. Perubahan besar terjadi. Anak-anak kita kehilangan adab. Banyak anak-anak yang sudah tidak takut lagi dengan orangtua dan guru-guru,” ujar Hasan Chabibie yang kini menekuni literasi digital.

Kekhawatiran akan ancaman radikalisme disadari pembicara ketiga, Abi Hasantoso. Paparannya berdasarkan tulisannya di Facebook, “Mengapa Saya Tak Mengizinkan Anak Saya Ikut Kegiatan Kemahasiswaan yang Berbasis Agama” yang menjadi viral di dunia maya sejak dipublikasikan pada 4 Februari lalu (https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10212679332592954&id=1075134405).

“Radikalisme di dunia pendidikan kita sudah mengerikan. Sebelum masuk kuliah saya mewanti-wanti anak-anak saya untuk tidak ikut kegiatan kemahasiswaan yang berbasis agama. Karena saya ingin anak saya sebagai mahasiswa bisa berpikir bebas dan bertindak bebas tanpa dibatasi dogma.”

Ia berharap mahasiswa saat ini bisa mengejar ketertinggalan bangsa Indonesia dibanding negara-negara modern lainnya. “Kita butuh mahasiswa-mahasiswa yang ahli sesuai disiplin ilmu masing-masing. Indonesia masih butuh banyak inovator. Butuh orang-orang seperti Nadiem Makarim. Tugas utama mahasiswa di situ. Saya berharap banyak orangtua menempuh langkah yang sama dengan apa yang sudah saya lakukan,” tambah Abi.

Rosyid Rustanto, dari Divisi Kontra Propaganda PPM Aswaja, menjadi pembicara keempat. Tiap hari – dengan kemampuan bahasa Arab dan bahasa Inggris dan belajar otodidak tentang propaganda – ia memantau berita-berita dari seluruh dunia, terutama konflik perang yang terjadi di Timur Tengah, melalui pemberitaan televisi seperti CNN, BBC, dan Al Jazeera.

Ia menemukan banyak hoax dari konflik perang di Timur Tengah yang diadopsi ke Indonesia sebagai berita-berita hoax terkait unsur SARA yang dapat meresahkan masyarakat kita. Ia memiliki ribuan data hoax yang disimpan dalam komputernya. Dengan data kuat yang dimilikinya selama ini Rosyid sering membuat bantahan bila ada orang yang membuat hoax.

Konflik perang yang sebetulnya terjadi di Timur Tengah sesungguhnya adalah rekayasa. Kata Rosyid, “Bagaimana mungkin para petinggi kelompok jihadis dari Libya sering bertemu dengan senator dari Amerika Serikat dan pejabat tinggi Turki?”

Acara diskusi yang dipandu Abdullah Badrie, berlangsung sekitar tiga jam. Sebagai penutup diskusi ia mempersilakan Maman Suherman, penggiat literasi yang dikenal sebagai Notulen penyimpul hasil diskusi di acara televisi ILK (Indonesia Lawak Klub), untuk menyampaikan catatannya.

Catatan yang dibuat Maman sungguh menyentil. “Kita yang bergerak mati-matian ‘bela negara’ berjalan sendiri-sendiri. Sementara orang-orang yang dengan sengaja ‘belah negara’ bekerja di sebuah gedung bertingkat dengan fasilitas komunikasi canggih dan ribuan orang yang siap menyerang kepada siapa saja yang dianggap berbeda dan bukan kelompoknya. Pemerintah harus hadir dan mengkomando kita semua yang mati-matian bekerja ‘bela negara’ selama ini,” ungkap Kang Maman, panggilan akrabnya, yang duduk diapit Ananda Sukarlan dan Gino Franki Hadi.

Maman berharap kita semua, dipandu pemerintah, bersatu padu dalam menanggulangi radikalisme dan ekstrimisme yang saat ini sudah mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Masalah radikalisme dan ekstrimisme itu berat. Kita harus kerja bersama untuk menanggulanginya.  (ISNU)

Sumber: Dutaislam

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: