Merawat Keberagaman dan Kebhinekaan di Indonesia

Senin, 21 Agustus 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Jakarta —Akhir-akhir ini,  Indonesia mendapat suntikan dan pukulan keras, mulai dari media sosial sampai model keberagamaan yang semu tampil ke permukaan. Alih-alih menciptakan suasana beragama yang sejuk, umpatan dan kata-kata sesat, kafir dan murtad bagaikan makanan kaum yang mengaku beragama.

Hilangnya moralitas dalam beragama dan berjurnalistik, menyita perhatian Ikatan Alumnus Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon (Ikhwan KHAS) untuk mengadakan diskusi publik di Jung Coffe Rawamangun, Jakarta Timur pada tanggal 19 Agustus 2017. Hadir dalam diskusi Direktur Pemberitaan Media Indonesia dan penulis buku Jurnalisme Keberagamaan untuk Konsolidasi Demokrasi, Usman Kansong; Penulis buku Kontroversi Dalil-Dalil Khilafah, Muhammad Sofi Mubarok; Pembanding dalam bidang jurnalisme dan keberagamaan, Muhammad Makmun Rasyid, dan dimoderatori oleh Sobih Adnan, jurnalis dan sekretaris Jenderal Ikhwan KHAS.

Usman Kansong mengatakan, “Keberagamaan adalah fakta. Kita menyaksikan, merasakan dan mengalaminya dalam kehidupan sehari-hari. Keberagamaan sungguh indah. Ia menjadikan kehidupan fisik dan sosial indah penuh warna serupa pelangi. Tapi, belakangan, banyak pers Islam muncul dan bersikap defensif dalam pemberitaannya”.

Dalam kenyataannya, Indonesia yang merupakan bukan negara agama dan negara sekuler, menuntut pemerintah melindungi para penganut agama, etnis, suku dan aliran kepercayaan lainnya tanpa mendiskriminasikan mereka semua. Rusaknya image terhadap Islam disebabkan laku tindak Muslim yang tidak memahami Islam secara komprehensif dan holistik. Tampil dengan gaya ulama tapi berwawasan juhala.

“Banyak lontaran atas nama agama, yang sejatinya bukan agama itu sendiri. Sebab, ketika tafsiran itu dimunculkan ke permukaan, ia adalah tafsiran manusia dan produk manusia itu sendiri bukan syariat murni dari Tuhan”, tutur Makmun Rasyid, yang juga penulis buku HTI: Gagal Paham Khilafah.

Banyak kegagalan-kegagalan Muslim dalam memahami ajaran yang dianutnya, lebih-lebih membawa ajarannya dengan penuh kasih sayang dan kerahmatan. Membawa pesan perdamaian bukan pentungan dan pekikan “takbir” yang digunakan untuk kendaraan politik kelompok-kelompok tertentu.

Menurut Sofi Mubarok, “Pancasila, menurut KH. Afifuddin Muhajir adalah “yufafiq al-Syariah” (sesuai dengan agama), “la yukhalifuha” (tidak bertentangan atau bersebrangan dengan syariat Islam) dan “wa hiya al-Syariah bi ‘ainiha” (dan dia adalah syariah itu sendiri). Mereka, orang-orang yang tekstualis, banyak melupakan eksistensi Al-Qur’an dan sunnah untuk mengkontekstualisasikan dan menerapkannya dengan visi Rahmatan lil Alamin.”

Muslim moderat, di tengah gempuran (baik di lapangan dan media) harus tampil menyadarkan akan pentingnya literasi media yang baik, mencounter pemikiran-pemikiran yang tidak sesuai khas ahlu sunnah wal jamaah dan khas Nusantara, dan mayoritas harus bergerak dan bersatu padu membentengi masyarakat dari paham-paham radikal yang ada di Indonesia. Semuanya untuk menciptakan kemaslahatan bersama dan memelihara keberagamaan sebagai sebuah keniscayaan dari-Nya. (ISNU)

Sumber: Harakatuna

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: