Menjawab Tuduhan Bid’ah dan Sesat

Minggu, 17 September 2017

ISLAMNUSANTARA.COM –  Banyak orang yang mengatakan bahwa semua hal yang tidak pernah dilakukan di masa Nabi atau Sahabat adalah sesat”, Asumsi tersebut sering dilontarkan oleh kaum Wahabi sebagai pelarangan atas berbagai amaliah umat Islam di Nusantara. Bahkan ironisnya, hanya dengan asumsi semacam itu mereka serampangan menyesatkan, mengafirkan dan mensyirikan para pengamal tradisi khas Nusantara, seperti pujian menjelang shalat fardhu di masjid musala, maulid Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, istighatsah, menabuh terbang di masjid, berzikir dengan suara keras dan lain semisalnya. Benarkah asumsi Wahabi?

Padahal sebenarnya sautau larangan agama tidaklah cukup didasarkan pada asumsi seperti itu, tetapi harus berlandaskan nash al-Qur’an maupun Hadits atau dalil yang jelas. Bukankah kodifikasi (pembukuan) al-Qur’an tidak dilakukan bahkan tidak diperintahkan oleh Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—? Begitu pula pemberian titik dan syakal atau harakat pada al -Qur’an tidak dilakukan oleh Nabi Saw maupun para ahabatnya. Penggolongan ilmu tajwid, ilmu fikih, ilmu tauhid, ilmu hadits, ilmu tafsir dan ilmu lainya menjadi disiplin ilmu tersendiri juga belum dilakukan di masa Nabi maupun di sahabat. Sungguh ironis ila hal ini dikatakan sebagai bid’ah sesat atau tindakan mengada–ada dalam agama dan pelakunya divonis sesat dan masuk neraka. Na’udzu billah tsumma na’udzu billahi min dzaalik.

Tidakah mereka membaca firman Allah—subhanahu wa ta’ala—:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (الحشر: 7).

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah; dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah amat keras hukumannya.” (QS: Al Hasyr :7)

Tidakkah mereka tidak menyimak penegasan Nabi Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, bahwa apa yang didiamkan syariat, tidak diperintahkan maupun tidak dilarang oleh syariat merupakan bagian dispensasi syari’at yang dimaafkan —subhanahu wa ta’ala—:

مَا أَحَلَّ اللهُ فِى كِتَابِهِ فَهُوَ حَلاَلٌ وَمَا حَرَّمَ فَهُوَ حَرَامٌ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ عَفْوٌ فَاقْبَلُوْا مِنَ اللهِ عَافِيَتَهُ فَإِنَّ اللهَ لَمْ يَكُنْ لِيَنْسَى شَيْئًا. (رواه البزار، والطبرانى والبيهقي والحاكم.  قال الهيثمى: إسناده حسن ورجاله موثقون)

“Apa saja yang dihalalkan Allah di dalam kitab-Nya adalah halal; apa saja yang diharamkan-Nya adalah haram; dan apa yang didiamkan-Nya maka merupakan ampunan, karenanya terimalah ampunan dari Allah. Sungguh Allah tidak melupakan sesuatu pun.” (HR. al-Bazzar, at-Thabarani, al-Baihaqi dan al-Hakim. Al-Haitsami berkata: “Sanadnya hasan dan para perawinya adalah perawi yang terpercaya.”)

Enam (6) Alasan Nabi Meninggalkan Berbagai Perbuatan

Lalu apa saja alasan-alasan itu hingga Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—meninggalkan berbagai perbuatan? Berikut ini penjelasannya:

Tradisi

Ya, tradisi menjadi alasan Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—meninggalkan suatu  perbuatan. Seperti ketika beliau enggan memakan daging dhab (semacam biyawak tapi pemakan rumput) ketika dihidangkan kepadanya saat bertamu di luar daerah. Beliau tidak memakannya karena mengharamkannya, tapi karena tidak terbiasa memakannya, seiring riwayat:

عَنْ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ أَنَّهُ دَخَلَ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْتَ مَيْمُونَةَ، فَأُتِيَ بِضَبٍّ مَحْنُوذٍ. فَأَهْوَى إِلَيْهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ، فَقَالَ بَعْضُ النِّسْوَةِ: أَخْبِرُوا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَا يُرِيدُ أَنْ يَأْكُلَ. فَقَالُوا: هُوَ ضَبٌّ يَا رَسُولَ اللهِ. فَرَفَعَ يَدَهُ، فَقُلْتُ: أَحَرَامٌ هُوَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ فَقَالَ: لَا، وَلَكِنْ لَمْ يَكُنْ بِأَرْضِ قَوْمِي فَأَجِدُنِي أَعَافُهُ. قَالَ خَالِدٌ: فَاجْتَرَرْتُهُ فَأَكَلْتُهُ وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْظُرُ. (رواه البخاري)

“Diriwayatkan Khalid bin Walid, sungguh ia bersama Rasulullah Saw pernah masuk ke rumah Maimunah dan dihidangi daging dhab, lalu beliau meraihnya dengan  tangannya. Salah seorang istri beliau berkata: ‘Kabarkan pada Rasulullah Saw daging yang akan dimakannya.’ Para sahabat pun berkata:  ‘Itu daging  dhab wahai Rasulullah.’ Lalu beliau menarik tangannya, sehingga aku tanyakan: ‘Apakah daging dhab hukumnya haram wahai Rasulullah?  Beliau menjawab: ‘Tidak haram, tetapi daging itu tidak ada di daerah kaumku, sehingga aku tidak menyukainya.” Khalid melanjutkan: ‘Lalu aku mengambil dan memakannya, sementara beliau hanya melihatnya.’” (HR. al-Bukhari).

Lupa

Seperti ketika beliau lupa bilangan rakaat shalat sebagaimana riwayat hadits shahih:

عَنْ عَلْقَمَةَ قَالَ: قَالَ عَبْدُ اللهِ: صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَالَ إِبْرَاهِيمُ: لَا أَدْرِي زَادَ أَوْ نَقَصَ. فَلَمَّا سَلَّمَ قِيلَ لَهُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَحَدَثَ فِي الصَّلَاةِ شَيْءٌ؟ قَالَ: وَمَا ذَاكَ؟ قَالُوا: صَلَّيْتَ كَذَا وَكَذَا، فَثَنَى رِجْلَيْهِ وَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ وَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ. فَلَمَّا أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ قَالَ: إِنَّهُ لَوْ حَدَثَ فِي الصَّلَاةِ شَيْءٌ لَنَبَّأْتُكُمْ بِهِ، وَلَكِنْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ فَإِذَا نَسِيتُ فَذَكِّرُونِي، وَإِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلْيَتَحَرَّ الصَّوَابَ فَلْيُتِمَّ عَلَيْهِ، ثُمَّ لِيُسَلِّمْ ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ. ( رواه البخاري)

“Diriwayatkan dari ‘Alqamah, ia berkata: ‘Abdullh berkata: ‘Nabi Saw melaksanakan shalat.’ Ibrahim berkata: ‘Saya tidak tahu, apakah beliau menambah atau mengurangi (rakaat shalat). Lalu ketika salam ditanyakan kepada beliau: ‘Ya Rasulullah, apakan terjadi sesuatu dalam shalat?’ Nabi bertanya: ‘Terjadi apa?’ Para sahabat menajwab: ‘Engkau shalat seperti demikian demikian.’ Lalu Rasulullah Saw melipat kedua kakinya, menghadap kiblat, sujud dua kali, lalu salam. Kemudian ketika menghadap kepada kami dengan wajahnya, beliau bersabda: ‘Sungguh jika terjadi sesuatu di dalam shalat niscaya aku kabarkan kepada kalian, tetapi aku adalah manusia sepertimu. Aku lupa sebagaimana kalian lupa. Karenanya, ketika aku lupa maka ingatkanlah; jika salah seorang darimu ragu–ragu dalam shalatnya, carilah yang benar, sempurnakan, salam, kemudian sujud (sahwi) dua kali.’” (HR. al-Bukhari)

Khawatir Menjadi Kewajiban bagi Umatnya

Sebagaimana  riwayat ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—:

إِنْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيَدَعُ الْعَمَلَ وَهُوَ يُحِبُّ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ خَشْيَةَ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ النَّاسُ فَيُفْرَضَ عَلَيْهِمْ. (متفق عليه)

“Sungguh Rasulullah Saw niscaya meninggalkan suatu amal padahal beliau sangat menyukainya, karena khawatir diamalkan oleh para sahabat lalu diwajibkan kepada mereka.” (Muttafaq ‘Alaih)

Seperti ketika Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melaksanakan shalat Tarawih secara berjamaah dengan para sahabat hanya tiga malam, lalu ditinggalkannya. (Muttafaq ‘Alaih)

Belum Terpikirkan

Sebagaimana sebelum terpikir memakai mimbar yang cukup tinggi, beliau berkhotbah dengan hanya bersandar pada pelepah kurma:

عَنْ أُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّى إِلَى جِذْعٍ إِذْ كَانَ اْلمَسْجِدُ عُرَيْشًا وَكَانَ يَخْطُبُ إِلَى ذَلِكَ الْجِذْعِ، فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِهِ: هَلْ لَكَ أَنْ تَجْعَلَ لَكَ شَيْئًا تَقُوْمُ عَلَيْهِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ حَتَّى يَرَاكَ النَّاسُ وَتُسْمِعُهُمْ خُطْبَتَكَ؟ قَالَ : نَعَمْ. فَصُنِعَ لَهُ ثَلَاثَ دَرَجَاتٍ، فَهِىَ الَّتِى عَلَى اْلمِنْبَرِ … (رواه الشافعى وأحمد وابن ماجه. وقال ابن الملقين: صحيح)

“Diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata: ‘Rasulullah SAW biasanya shalat menghadap batang pohon kurma ketika masjid telah teratapi dan khotbah bersandar padanya. Lalu salah seorang sahabatnya berkata: ‘Apakah berkenan jika engkau gunakan papan yang digunakan untuk berdiri di atasnya pada hari Jum’at, sehingga orang-orang dapat melihat Anda dan Anda dapat memperdengarkan khotbah?’ Nabi menjawab: ‘Ya.’ Lalu dibuatkanlah tiga tingkat anak tangga untuk beliau, yaitu anak tangga yang ada di mimbar …” (HR. as- Syafi’i, Ahmad dan Ibn Majah. Ibn al-Malaqqin berkata: “Shahih.”)

Masuk dalam Petunjuk Ayat Secara Umum

Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—meninggalkan sesuatu karena telah masuk dalam keumuman ayat-ayat al-Qur’an atau al-Hadits. Seperti halnya beliau meninggalkan shalat Dhuha dan sebagian besar amal-amal sunnah, karena telah terakomodir dalam firman Allah:

وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ. (الحج: 77)

“Dan lakukanlah kebaikan, supaya kalian beruntung.” (QS. al-Hajj: 77)

Menjaga perasaan

Seperti Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengurungkan niatnya  merenovasi Ka’bah, seiring hadits riwayat ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَمْ تَرَيْ أَنَّ قَوْمَكِ حِينَ بَنَوْا الْكَعْبَةَ اقْتَصَرُوا عَنْ قَوَاعِدِ إِبْرَاهِيمَ. قَالَتْ: فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَفَلَا تَرُدُّهَا عَلَى قَوَاعِدِ إِبْرَاهِيمَ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَوْلَا حِدْثَانُ قَوْمِكِ بِالْكُفْرِ لَفَعَلْتُ. (متفق عليه)

“Sungguh Rasulullah Saw bersabda: ‘Tidakkah kau lihat bahwa ketika membangun Ka’bah kaummu meninggalkan pondasi Nabi Ibrahim As?’ ‘Aisyah berkata: ‘Aku berkata: ‘Ya Rasulullah, tidakkah engkau mengembalikannya (menjadi lebih lebar sebagaimana aslinya) di atas pondasi Ibrahim?’ Rasulullah Saw menjawab: ‘Seandainya tidak karena kaummu belum lama meninggalkan kekufuran, niscaya akan aku lakukan.’” (Muttafaq ‘Alaih)

Tidak semua yang belum ada di masa Nabi adalah bid’ah sesat

Enam (6) alasan tersebut membuktikan, bahwa tidak semua yang belum ada atau belum pernah dilakukan pada masa Nabi adalah bid’ah sesat sebagaimana asumsi Wahabi.

Sebenarnya, masih banyak lagi alasan kenapa Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tidak melakukan (meninggalkan) suatu perbuatan, namun enam (6) hal itu sudah cukup sebagai dalil runtuhnya asumsi Wahabi, bahwa apa yang tidak dilakukan oleh Nabi pasti bid’ah sesat dan dilarang agama.

Berkaitan konteks ini, pakar hadits kontemporer al-Hafizh al-Ghummari dalam karyanya: Husn at-Tafahhum wa ad Dark li Mas’alati at-Tark ((Pemahaman Ideal Seputar Hal-Hal yang Ditinggalkan Nabi) (141)) menjelaskan:

وَالتَّرْكُ وَحْدَهُ إِنْ لَمْ يَصْحَبْهُ نَصٌ عَلَى أَنَّ الْمَتْرُوْكَ مَحْظُوْرٌ لاَ يَكُوْنُ حُجَّةً فِي ذَلِكَ بَلْ غَايَتُهُ أَنْ يُفِيْدَ أَنَّ تَرْكَ ذَلِكَ اْلفِعْلَ مَشْرُوْعٌ. وَإِمَّا أَنَّ ذَلِكَ اْلفِعْلَ الْمَتْرُوْكَ يَكُوْنُ مَحْظُوْرًا فَهَذَا لاَ يُسْتَفَادُ مِنَ التَّرْكِ وَحْدَهُ وَإِنَّمَا يُسْتَفَادُ مِنْ دَلِيْلٍ يَدُلُّ عَلَيْهِ.

“Meninggalkan sesuatu perbuatan” saja, jika tidak diiringi dalil nash yang menunjukan bahwa perbuatan yang ditinggalkan adalah terlarang,  maka tidak bisa menjadi dalil atas keharamannya. Bahkan paling jauh hal itu hanya memberi pemahaman bahwa meninggalkan perbuatan tersebut adalah disyariatkan (tidak sampai haram bila dilakukan). Adapun suatu perbuatan yang ditinggalkan menjadi terlarang, maka tidak bisa dipahami hanya semata–mata karena ditinggalkan, namun harus dipahami dari dalil (khusus) yang menunjukan atas keharamannya.”

Dalam bahasa yang lebih lugas al-Hafizh al-Ghumari menyatakan (Husn at-Tafahhum 139-141:

إِذَا تَرَكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا فَيَحْتَمِلُ وُجُوْهًا غَيْرَ التَّحْرِيْمِ.

“Jika Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—meninggalkan sesuatu, maka memungkinkan beberapa alasan selain mengharamkannya.”

Kesimpulan

Jadi sangat jelas kan, tidak semua hal yang tidak ada atau tidak dilakukan di masa Nabi, apalagi di masa sahabat, otomatis merupakan  bid’ah sesat dan pelakunya masuk neraka sebagaimana asumsi Wahabi. Wallahu a’lam. (ISNU)

Oleh: K. M. Luqmanul Hakim (PP al-Inabah Surabaya)

Sumber: Muslimoderat

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: