Menag Minta Santri Rebut Dunia Medsos dari Jangkauan Radikalisme

Senin, 23 Oktober 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Semarang  – Dengan mengangkat tema Wajah Pesantren Wajah Indonesia, kegiatan Gebyar Shalawat kebangsaan dilaksanakan dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional Sabtu (21/10) di lapangan Pancasila, Semarang. Dalam kesempatan tersebut, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, menegaskan, bahwa kegiatan ini  menunjukkan simbol kekuatan bangsa.

“Menjaga Indonesia sama dengan menjaga peradaban dunia. Era sekarang, kita harus menguasai media sosial. Kalau tidak, media sosial dikuasai mereka yang memiliki paham keagamaan yang tidak sesuai dengan yang diajarkan para pendahulu kita, yaitu islam yang washatiyyah,” demikian disampaikan Lukman Hakim.

Hadir dalam acara itu, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Walikota Semarang Hendrar Prihadi, Para Guru Besar dan Rektor Perguruan Tinggi.

Masih menurut Lukman, menjaga atau merawat bangsa dan negara itu harus dibarengi dengan penguasaan ilmu teknologi di era digital seperti saat ini, jika tidak, maka, akan ketinggalan.

Di samping itu, ia juga menjelaskan pentingnya memadukan teks dan kontekstual dalam beragama. Dengan begitu antara rasio dengan wahyu memiliki peran yang berimbang dan tidak mendewakan teks yang menghasilkan radikalis dan tidak pula mendewakan akal pikiran yang menghasilkan liberalis.

Menteri lulusan pesantren tersebut memberikan perumpamaan dengan membuat komik, “Membuat komik adalah cara kita mengolah kepekaan rasa kita, sehingga agama tidak hanya dipahami dengan kemampuan nalar tapi juga kepekaan rasa,” tambahnya.

Tak kalah menarik tausiyah yang disampaikan Hbib Umar Muthohhar. Ulama yang sudah melang melintang di dunia dakwah ini, mengajak santri untuk peka terhadap keadaan. Belakanga, kata Habib Umar, banyak muncul aliran-aliran baru. Ironisnya, mereka ini gencar sekali menyalahkan yang lama.

Jika menjumpai aliarn seperti ini, demikian Habib Umar, maka, jangan kaget, jangan pula tergoda. “Gak usah melu-melu sing anyar-anyar. Wes pokoke angger melu Kiai insyaAllah slamet (tidak perlu ikut-ikutan aliran yang baru. Sudahlah ikuti kiai insyaAllah selamat red.),” jelasnya.

Habib Umar juga sering memberikan argumentasi pokrol untuk menghadapi atau ‘menangkis‘ aliran-aliran baru itu. Argumentasi pokrol itu disebutnya sebagai dengan Dalil Jumadi alias dalil orang awam.

“Kalau ada yang bilang itu tahlil bid’ah, gampang jawabnya. Bilang saja semua yang diajarkan kiai, itu enak. Saudara mati ditahlili, tetangga mati ditahlili, teman mati ditahlili, enak. Mengapa? Kita bisa membedakan yang mati ini orang, apa celeng (babi)? Kalau babi, dilempar saja beres. Nah, sekarang tinggal pilih, mau jadi babi apa jadi orang? Ini Dalil Jumadi,” tegas Habib Umar.

Lalu, lanjutnya, kalau ada orang yang masih ngotot tanya dalil, hadits, dasar tahlilan, maka, sebaiknya diajak saja ke kiai. Begitu masuk pesantren, ketemu santri,  mereka akan terdiam. (ISNU)

Sumber: Duta.co

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: