Memerangi Radikalisme dengan Seni Kaligrafi

Jum’at, 15 September 2017
ISLAMNUSANTARA.COM, Jombang – Dalam menulis kaligrafi Arab, sangat dibutuhkan kesabaran dan keluwesan agar hasil khath (kaligrafi) tidak hanya indah namun juga lembut dan “cantik” berkarakter. Untuk menulis Al-Islam saja misalnya, seorang kaligrafer internasional asal Syiria, pernah mengahabiskan waktu hingga dua hari.
“Dalam berkaligrafi dibutuhkan adab, di dalamnya juga ada cinta,” demikian penjelasan Ustadz Atho’illah, panitia acara Festival dan Pameran Kaligrafi se ASEAN dalam rangka Hari Santri 2017, yang digelar di Pesantren Denanyar, Jombang bersama kaligrafer internasional, Dr. Abdullah Abdu Futiny (Saudi Arabia), Kamis (14/9/2017).
Tidak paham bahasa Arab, lalu menulis kaligrafi tanpa kaidah yang jelas, kata Ustadz Atho’, tidak akan menghasilkan seni kaligrafi yang indah. Ia mengkritik orang-orang yang bangga dengan bahasa Arab tapi menulis Arab masih salah-salah.
“Imla’ (teknik menulis Arab dengan benar) saja tidak bisa, apalagi menulis Arab dengan keindahan seni,” tuturnya kepada Redaksi Harisantri.com saat mengomentari kelompok Islam radikal yang suka pakai Arab tapi nihil pengetahuan imla’ Bahasa Arab.
Tradisi kritik di kalangan para khattath (kaligrafer) juga tetap beradab. Tidak saling merasa dirinya paling bagus menulis, paling indah, dan paling sesuai kaidah. Ada sistem ijazah, dimana seorang murid dinyatakan lulus jika sudah menguasai konsep-konsep dasar beserta praktiknya. Sistem ijazah ini sanadnya harus sampai kepada Sayyidina Ali karramallah wajhah.
Adab para khattath kepada guru juga tetap dijaga ketat. Mirip ajaran Kitab Ta’lim Muta’allim dan Thariqah. Seorang guru khath harus sesuai antara yang diucapkan dan yang dilaksanakan. “Begitu ada seorang khattath yang merasa karyanya lebih baik dari orang lain, dia akan kena sangsi sosial,” terang Ustadz Atho’.
Seorang yang sudah mendapatkan ijazah lulus (mujaz) secara formal dia sudah boleh membubuhkan tandatangan dalam karya kaligrafinya. Tapi secara adab, banyak yang menunggu dawuh guru untuk menulis tandatangan itu.
“Ini ada yang kami jaga. Tidak sembarangan memberi ijazah kepada murid kami walau kami sudah diberi hak memberi ijazah oleh guru,” tanda Ustadz Atho’.
Radikalisme muncul karena orang lebih mengutamakan pengetahuan daripada adab. Maka, mendorong belajar kaligrafi yang memiliki dimensi seni layyinah (elastis) sangat perlu untuk melawan sikap radikal yang ingin selalu merasa benar sendiri. Tidak ada layyinah (kelembutan sikap) dalam radikalisme. (ISNU)
Sumber: dutaislam

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: