Kesenjangan Ekonomi Umat Sebagai Pemicu Aksi Terorisme

Minggu, 03 September 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Jakarta – Setiap terjadi aksi terorisme, spekulasi seputar pelaku, motif  dan tujuan aksi terorisme menjadi topik diskusi yang menarik perhatian, sehingga komentar masyarakat pun bermunculan. Ada yang mengaitkan dengan terorisme internasional, lemahnya sistem pengamanan dan intelijen, kecemburuan sosial dan lain sebagainya. Amat jarang mengaitkan fenomena terorisme dengan persoalan kesenjangan dan kesejahteraan ekonomi masyarakat, khususnya umat Islam. Padahal, selama ini kesenjangan dan ketimpangan ekonomi di kalangan umat Islam dunia menjadi salah satu pemicu munculnya sikap radikal dan terorisme. Oleh karena itu, tidak heran jika Islam selalu dikaitkan setiap terjadi aksi terorisme.

Dalam konteks Indonesia, jika secara statistik dinyatakan kurang lebih 80% dari rakyat Indonesia adalah beragama Islam, maka sangat logis diajukan hipotesis bahwa 80% dari 235 juta rakyat Indonesia yang masih miskin adalah umat Islam. Inilah fakta riil yang menjadi tantangan tersendiri umat Islam hari ini. Untuk itu, strategi jitu mengenai penguatan umat agar menjadi kekuatan mandiri di bidang ekonomi menjadi mendesak. Tentu saja jawaban atas persoalan ini tidak mudah sebab akan berhubungan langsung dengan perilaku sosial dan sumber-sumber daya ekonomi yang dapat digunakan. Di sini peran agama sangat strategis dalam upaya berubah perilaku sosial umat yang destruktif terhadap ekonomi ke arah perilaku sosial konstruktif terhadap perubahan ekonomi.

Konsep dan strategi pemberdayaan umat dalam menciptakan kekuatan mandiri tersebut haruslah mengandung muatan langkah konkret untuk kemudian meyakinkan umat bagaimana mereka (baca: kita) tetap eksis dalam kehidupan yang serba materialistik ini dengan tidak menggantungkan hidup pada belas kasihan orang lain. Pemahaman umat terhadap perilaku ekonomi yang Islami adalah mutlak diprioritaskan supaya tercipta kedisiplinan sosial-ekonomi yang mengarah pada keyakinan diri sebagai jalan dasar mencari jalan pengentasan kemiskinan.

Kemiskinan dalam perspektif sosial menunjukkan ketidakmampuan masyarakat menggeser posisi kehidupannya baik secara vertikal (naiknya taraf kehidupan sosial) maupun secara horizontal (bertambahnya akses individu dalam lingkungan yang lebih luas) yang disebabkan oleh ketidakmampuan ekonomi. Manusia dalam pembangunan ekonomi adalah subjek (pelaku) sekaligus objek (penerima hasil) pembangunan. Dengan demikian, pemberdayaan adalah upaya serius yang mengarah pada keterlibatan rakyat dalam setiap proses pembangunan tersebut.

Pembangunan ekonomi dalam Islam

Pembangunan ekonomi tidak bisa lepas dari etika sebab etika mengajarkan bagaimana kita harus berfikir dan berbuat dalam dua batas, yakni benar dan salah. Sesuatu yang salah tetapi dikerjakan berarti tidak etis, begitu juga sebaliknya. Etika Islam yang pertama adalah tauhid, yaitu segala sesuatu yang ada di dunia ini bersumber dari Allah. Namun demikian, segala sesuatu diperuntukkan bagi manusia baik yang di langit maupun yang di bumi (QS. Al-Jatsiyah: 13). Etika ini meletakkan ketaqwaan kepada Allah sebagai syarat utama bagi terbukanya reziki dari Allah (QS. Al-‘Araf: 96). Manusia yang bertaqwa dengan sebenar-benarnya adalah manusia yang berakhlak tinggi yang diharapkan akan menjadi dasar dalam mengemban misi yang diamanatkan oleh Allah.

Etika yang kedua adalah tanggung-jawab. Manusia diciptakan Allah di bumi ini sebagai pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya (QS. Al-Baqarah: 30). Allah memberikan amanat kepada manusia untuk mamakmurkan bumi (QS. Hud: 61). Untuk itu, manusia diperintah untuk bekerja merubah kehidupannya (QS. Ar-Ra’du: 11). Dalam konteks ini, faktor moral sebagaimana dikatakan Etzioni memegang peranan penting. Tentu saja moral yang Islami.

Pembangunan ekonomi merupakan proses penggalian sumber-sumber daya alam yang melibatkan sumber daya manusia, ilmu dan teknologi sehingga memberikan manfaat dengan nilai yang lebih tinggi bagi manusia. Pembangunan ekonomi menurut Dusley Seer dikatakan berhasil jika mampu mengatasi tiga masalah pokok: kemiskinan (pendapatan rendah), pengangguran (kesempatan kerja rendah) dan ketimpangan (distribusi hasil pembangunan tidak merata). Ketiga sasaran pembangunan di atas akan tercapai jika manusia dalam proses pencapaian tujuan pembangunan berpegang pada kisi-kisi yang telah ditegaskan dalam Al-qur’an seperti yang telah diurai sebelumnya.

Etika tauhid dan tanggung-jawab menegaskan kepada pelaksana pembangunan bahwa penggunaan kekayaan alam harus tunduk kepada sunnatullah sebab Dialah pemilik segalanya sehingga kepada pelaku pembangunan diperintahkan untuk tidak berbuat kerusakan di bumi. Dengan demikian, menjadi jelas bahwa Islam memiliki prinsip dasar yang tegas dalam mencapai tingkat kesejahteraan umat baik pada level perencanaan, pelaksanaan maupun pada level pendistribusian. (ISNU)

Sumber: Harakatuna

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: