Jaringan Radikalisme dari SMA hingga Perguruan Tinggi

masud-adnan-640x420Oleh: M Mas’ud Adnan

ISLAMNUSANTARA.COM – Dr Abdi Kurnia (2015) punya catatan menarik dalam proses rekrutmen kader Islam radikal di Indonesia. Dalam pemaparannya di Pondok Pesantren Mahasiswa Al Hikam Depok Jawa Barat ia mengungkap, pada tahun 1990-an elite Islam radikal HA dan SRP yang memegang posisi penting di Depdikbud punya target menguasai seluruh PTN besar di Pulau Jawa seperti UI, IPB, ITB, ITS, UGM, UNAIR, dan UNDIP, melalui pertarungan Senat Mahasiswa tingkat Fakultas dan Universitas.

Gerakan masif ini – menurut Abdi Kurnia – tak serta merta. Sebelumnya, pada tahun 1986, HA dan SRP membentuk pola liqo’ dan usroh dengan menjadikan beberapa SMA favorit di Jakarta sebagai role model.

Jadi, rekrutmen kader radikal dilakukan melalui jalur SMA dan Bimbingan Belajar (Bimbel) yang kemudian diarahkan pada proses “mentoring” untuk dikoordinasikan dengan Rohani Islam pada tiap-tiap fakultas.

Para elit radikal juga melakukan rekrutmen kader di lingkungan pelajar SMP dengan memanfaatkan waktu libur semester atau libur Ramadan.

Para siswa yang secara psikologis dan kognitif keagamaan masih “bersih” dan “fresh” itu didoktrin dengan materi-materi dasar keislaman seperti: Ma’na Assyahadatain, Ma’na al-Islam, al-Gazwul al-Fikri, Ahammiyatu al-Tarbiyah, Amradlu al-Da’wah, Qadliyaatul al-Ummah dan lain sebagainya.

Materi-materi keislaman itu kemudian menjadi “Ideologi keagamaan” yang ditancapkan dan dibrainwash ke dalam otak para pelajar sehingga merasuk dan menguasai memori mereka yang pada gilirannya mengubah perilaku mereka dan menjadi aktivis fundamentalis dan militan saat di perguruan tinggi. Mereka bahkan bisa diremote oleh elite Islam radikal yang telah menciptakannya. Apalagi doktrin keagamaan yang diyakini sangat “hitam-putih” sehingga semua paham yang berbeda dianggap sesat dan diluar mainstream mereka.

Pada saat bersamaan, para elit mahasiwa Islam yang inklusif seperti PMII justeru cenderung ”sekuler” terutama di lingkungan kampus agama (Islam). Mereka lebih tertarik menukil dalil-dalil sosialis atau teori-teori kekiri-kirian sehingga nyaris kurang fokus terhadap doktrin-doktrin keagamaan yang bersifat mendasar.

Akibatnya, para mahasiswa baru yang haus spiritualitas dan ajaran agama merasa tidak menemukan oase di PMII. Bahkan di beberapa kampus PMII cenderung menggugat kemapanan paham keagamaan sehingga kadang menimbulkan kontroversi. Maklum, para elit PMII rata-rata sudah banyak yang mengusai ilmu agama. Background mereka umumnya pesantren sehingga banyak yang kadang cenderung melakukan derekonstruksi terhadap pemahaman keagamaan tertentu sebagai konsekuensi dari upaya elaborasi intelektual mereka.

Memang tak semua elit PMII cenderung ke kiri-kirian. Banyak yang secara intiqamah menggelar dan melestarikan tradisi ke-NU-an seperti tahlil, istighasah atau ritual dan tradisi ke-NU-an lainnya. Namun hasil pengamatan saya banyak teman-teman aktivis PMII yang terlibat dalam kerja intelektual cenderung ke-kiri-kiri-an dan terlibat dalam dekonstruksi pemahaman keagamaan yang di kalangan NU sudah dianggap mapan.

Stigma sekuler inilah yang kemudian dijadikan salah satu senjata para elit Islam radikal untuk mem-brainwash kader-kader Islam radikal.

Selain rekrutmen kader lewat proses brainwashing di lingkungan pelajar, mungkin menarik kita mencermati pernyataan Dr Sujatmiko, mantan dubes RI di Sudan. Ia mengungkapkan bahwa proses masuknya radikalisme di Indonesia juga lewat para mahasiswa yang sudah kembali dari Timur Tengah. Mereka yang belajar di Timur Tengah itu membawa virus radikalisme, termasuk melalui jaringan alumni mereka. Ia menyebut bahwa pemberian beasiswa untuk belajar di Timur Tengah juga bagian dari benih radikalisme.

Selain itu ajaran atau pengalaman mantan pejuang Islam di Afghanistan, Syria, Libya dan lain-lain punya andil besar dalam menyuburkan virus radikalisme.

Pada 1996 para elit radikal memberi instruksi kepada semua halaqah utama di 5 wilayah Jakarta untuk merumuskan prinsip-prinsip pendirian partai politik. Menurut Abdi Kurnia, mereka mengadakan studi banding ke Turki, belajar dari pengalaman pendirian partai Refah. Pada 1997 dimulai kajian-kajian politik di halaqah-halaqah utama dengan sumber kajian Jurnal IPS (International Politics Studies) dari Pakistan.

Pada tahun 1997 para elit Islam radikal menginstruksikan semua ketua senat mahasiswa PTN untuk berkoordinasi menyikapi rencana lengsernya Presiden Soeharto dari tampuk kekuasaan.

Pada 1998 elit Islam radikal menginstruksikan semua ketua senat PTN untuk mengambil peran dalam proses reformasi nasional dan melakukan konsolidasi pedirian partai.

Dari rangkaian aksi itu tampak sekali bahwa orientasi kelompok Islam radikal adalah kekuasaan, terutama pendirian khilafah, meski dalam perkembangan politik mereka akhirnya memilih lebih terbuka dan mengubah haluan. Saya melihat jaringan dari SMA ke perguruan tinggi itu justeru lebih berorientasi pada formalisme syariah.

Nah, mencermatiproses sejarah radikalisme di atas, media kampus sangat strategis dalam untuk menangkal gerakan radikalisme lewat pemikiran para mahasiswa. Saya optimis media kampus sangat efektif untuk menangkal radikalisme. Setidaknya, jika beberapa langkah strategis di bawah ini bisa dilakukan.

Pertama, para pengelola media kampus harus memahami anatomi gerakan mereka sehingga bisa menyajikan tulisan yang mampu membongkar strategi mereka. Ingat, mereka terus bergerak dan bahkan makin masif.

Kedua, media kampus secara kontinu dan periodik melaporkan perkembangan gerakan mereka, termasuk aspek mudlaratnya. Dengan cara ini publik mahasiswa paham betapa gerakan mereka diluar batas dan tak sesuai dengan ajaran Islam yang benar.

Ketiga, media kampus secara istiqamah menyajikan laporan Islam rahmah dan ramah dengan logika dan dalil yang bersifat intelektual. Jangan lupa, doktrin hanya bisa dilawan dengan doktrin yang masuk akal.

Keempat, intensitas kajian dan liputan tentang Islam rahmah dan ramah harus lebih ditingkatkan dan divokalkan sehingga bisa menjadi “doktrin yang wajar” dan masuk akal. Dengan demikian media kampus menjadi media brainwash yang tanpa kehilangan nalar intelektual.

Kelima, media kampus perlu koordinasi antarsesama media kampus. Dalam arti, perlu aliansi media kampus terutama yang sealiran atau sesama Islam rahmah dan ramah.

Keenam, sasaran media kampus diperluas dengan agenda kegiatan pelatihan jurnalistik pada adik-adik siswa-siswi SLTP dan SLTA. Fakta sejarah menunjukkan bahwa adik-adik SLTP dan SLTA yang selama jadi sasaran kelompok Islam radikal.

Ketujuh, pengelola media kampus perlu lebih canggih menguasai Information technology (IT). Sebab kelompok Islam radikal sangat ahli IT dan selalu memanfaatkan IT sebagai media propaganda mereka.

Kedelapan, pengelola media kampus harus menyadari bahwa ”revolusi media tak pernah selesai”. Dulu media bertumpu pada media cetak dan media elektronik (TV dan radio). Kini media mengalami revolusi luar biasa, terutama munculnya internet yang kemudian melahirkan media sosial.

Para penikmat internet – termasuk mahasiswa – mungkin sudah membaca berita Hugh Hefner (89), pemilik Majalah Playboy, yang mengeluh karena kini kalah vulgar dalam mengesploitasi foto-foto porno atau ketelanjangan. Dulu sebelum ada internet oplah Majalah Playboy mencapai 5,6 juta eksemplar. Tapi gara-gara internet, sirkulasi Playboy terus merosot dari 5,6 juta eskemplar pada 1970 menjadi 800.000 saat ini.

Akhirnya Hefner menyetop foto sampul wanita telanjang di majalah porno yang terbit sejak 1953 itu.

Kesembilan, doa dan kita diskusikan bersama……..!

M Mas’ud Adnan adalah direktur HARIAN BANGSA, alumnus Pesantren Tebuireng dan Pascasarjana Universitas Airlangga ([email protected])

Sumber: bangsaonline.com

 

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: