Islam Itu Cinta Damai, Tidak Pernah Mengajarkan Kekerasan

Selasa, 03 Oktober 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Indramayu – Agama Islam sama sekali tidak mengajarkan kekerasan membenci sesamanya dengan keji dan membabi buta. Demikian ditegaskan oleh Ketua Dewan Pembina Yayasan Perisai Ustadz Nurjali.

“Ïslam itu cinta dan kasih sayang kepada sesamanya, Rosulullah Muhammad SAW mengajarkan itu kepada ummatnya, bagaimana beliau tetap mencintai dan memaafkan saat dicerca, di caci dan dihina,” ungkapnya.

Untuk itulah menurut Ustadz Nurjali, Nabi Muhammad SAW diturunkan menjadi rosul Allah untuk menyempurnakan akhlak manusia, bukan untuk mengubahnya. “Jangan dimusuhi ketika akhlak sesama manusia belum sempurna, kita berkewajiban menyampaikan dengan hikmah dan mau’idzoh hasanah bukan dengan fitnah dan menyampaikan ujaran kebencian membabi buta,” terangnya.

Nurjali mengaku sangat mengapresiasi pihak Fahmina Institute Cirebon yang selama ini konsisten dalam mengawal tradisi untuk kemanusiaan dan keadilan.

“Kami merasa bangga bisa bekerjasama dan segera menyelenggarakan workshop Jaringan di Ponpes Nurul Fajar Segeran, Kecamatan Juntinyuat, demi Kabupaten Indramayu dan Indonesia yang damai tanpa kekerasan,” katanya.

Dikatakan, sebagai bagian dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Kabupaten Indramayu Jawa Barat menjadi daerah yang potensial dijadikan pasar kelompok tertentu yang intoleran mempengaruhi masyarakat.

“Alhasil, keberadaan kelompok tersebut mulai maju dan berkembang di desa-desa yang tersebar di Kabupaten Indramayu, makanya kami ingin lakukan antisipasi bersama Fahmina Institute,” ujarnya.

Potensialnya Kabupaten Indramayu juga tidak terlepas dari minimnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dimana di Jabar menjadi daerah dengan IPM terendah, termasuk rata-rata lama sekolahnya dimana menurut data BPS tahun kemarin hanya di angka 5,46 atau kelas 6 Sekolah Dasar (SD) saja.

“Iming-iming surga dan pekerjaan yang menjanjikan kerap menjadi salah satu cara jitu dan efektif kelompok intoleran tersebut mengajak masyarakat dengan ekonomi lemah dan minim pengetahuan agamanya sehingga mudah tergiur padahal menyesatkan,” kata dia.

Perisai Institute menurutnya mencatat, di Wilayah Timur Indramayu yakni Desa Kedungwungu Kecamatan Kerangkeng, bisa menjadi bukti dimana keberadaan kelompok intoleran mulai menunjukkan eksistensinya.

Lanjut Nurjali, faktanya pada awal Tahun 2016  salah satu warganya Ahmad Muhazan telah diduga keras oleh Mabes Polri sebagai salah satu pelaku Bom Bunuh Diri di Sarinah, Jalan MH Tahamrin Jakarta Pusat 14 Januari Tahun 2016.

“Pengembangannya, di Wilayah Barat Kabupaten Indramayu pihak Densus 88 Anti Teror kemudian mengamankan dua warga dan mengamankan beberapa dokumen jihad dan bendera ISIS di Desa Mekarjati dan Desa Cipancuh yang masuk ke Kecamatan Haurgeulis. Selain itu, penggeledehan dilanjutkan di wilayah tengah Kabupaten Indramayu yakni Kelurahan Karangmalang Kecamatan Indramayu pada Tanggal 26 Januari Tahun 2016 milik salah satu terduga teroris,” bebernya.

Untuk itu bagi Nurjali agenda Workshop Jaringan menangkal radikalisme dan hate speech adalah cara lembaganya ingin memetakan dan mengajak bersama-sama menjaga generasi agar tidak terkontaminasi oleh ajaran yang salah sehingga menghilangkan pesan penting beragama.  (ISNU)

Sumber: Perisainusantara

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: