Inilah Tuntutan Al-Qur’an dalam Penggunaan Medsos Menurut Prof. Huzaemah

Minggu, 27 Agustus 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Jakarta – Rektor Institut Ilmu Al Quran (IIQ) Prof Huzaemah Tahido Yanggo menyampaikan tuntunan Al Quran dalam penggunaan media sosial. Dia menyampaikan tuntunan itu dalam orasi ilmiah pada wisuda ke-18 IIQ di Gedung Graha Widya Bhakti Puspitek Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (26/8).

“Dalam Al Quran ditemukan beberapa kata kunci tentang komunikasi negatif. Kata kunci ini pada saat yang sama juga mengisyaratkan tentang pentingnya sikap hati- hati, mawas diri, dan cerdas literasi tentang media sosial,” kata Huzaemah.

Kata kunci pertama adalah “qaul zur” yang berarti perkataan buruk atau kesaksian palsu. Termasuk dalam kategori ini adalah memperindah suatu kebohongan atau tazyin al-kizb.

“Kesaksian palsu merupakan dosa besar, sama dengan dosa syirik,” kata Huzaemah seraya menyebutkan dalam Al Quran Surat Al-Hajj ayat 30, perintah menjauhi “qaul zur” disampaikan bersamaan dengan larangan menyembah berhala.

Kedua, tajajjus dan ghibah. Tajassus berarti mencari-cari kesalahan orang lain, sementara ghibah adalah membicarakan aib atau keburukan orang lain. Mengutip Surat Al-Hujurat ayat 12, Huzaemah mengatakan para ulama sepakat bahwa mencari kesalahan orang lain dan menggunjing termasuk dosa besar dan para pelakunya harus segera bertaubat dan meminta maaf kepada orang yang bersangkutan.

Ketiga, namimah yang berarti mengadu domba atau memprovokasi, yakni membawa suatu berita kepada satu pihak dengan maksud mengadu domba dengan pihak lain.

“Sebaiknya kita berhati-hati ketika mendapatkan berita melalui media sosial. Jangan buru-buru men-share berita-berita yang belum diketahui kebenarannya. Jika diketahui kebenarannya perlu ditimbang apakah berita tersebut membawa manfaat atau justru mendatangkan madarat,” kata Huzaemah.

Kata kunci keempat adalah sukhriyah yang berarti merendahkan atau mengolok-ngolok orang lain. “Al-Quran Surat Al-Hujurat ayat 11 melarang orang beriman laki-laki atau perempuan mengolok-olok satu dengan yang lainnya. Boleh jadi yang diolok-olok lebih mulia di sisi Allah,” kata Huzaemah.

Wisuda ke-18 IIQ dilangsungkan bersamaan dengan peringatan ulang tahun ke-40 berdirinya kampus spesialis Al Quran ini.

Ketua Yayasan IIQ Hj Erwini Joesoef dalam sambutan tertulisnya menyatakan kegembiraannya karena minat belajar Al Quran terus meningkat. “Calon mahasiswa baru membludak sampai kampus IIQ tidak bisa menampung semua mahasiswa yang mendaftar,” kata dia. (ISNU)

Sumber: Republika

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: