Inilah Pernyataan Sikap PBNU Terkait Aksi kekerasan di Rumah Ibadah

Senin, 12 Februari 2018

ISLAMNUSANTARA.COM, Jakarta – Menyikapi aksi kekerasan yang terjadi di Gereja Santa Lidwina, Bedog, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Ahad (11/2) pagi oleh seorang beridentitas Suliyono, Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) HA. Helmy Faishal Zaini mendorong masyarakat agar tetap tenang, tidak terpancing, dan tidak terprovokasi.

“Mengimbau kepada masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpancing serta tidak terprovokasi. Kita harus selalu menghormati dan memercayakan proses hukum pada aparat penegak hukum,” ujar Helmy, Ahad (11/2) lewat keterangan tertulisnya.

Berikut pernyataan sikap yang disampaikan oleh Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini:

  1. Mengutuk dan mengecam tindakan penyerangan yang melukai Pastur dan jemaah gereja. Tindakan penyerangan dan juga kekerasan, bukanlah bagian dari ajaran agama dan keyakinan apapun. Islam mengecam tindakan kekerasan. Apalagi jika hal tersebut dilakukan di dalam rumah-rumah ibadah. Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadis diceritakan bahwa Ibnu Abbas mengatakan, “Adalah Rasulullah SAW setiap kali mengutus bala tentaranya, maka beliau berpesan: ‘Berangkatlah dengan Nama Allah, perangilah orang-orang yang kufur kepada Allah. Dan janganlah kalian curang, jangan mencuri harta rampasan, dan jangan membunuh orang-orang yang berada di dalam gereja.” (HR. Ahmad, At-Thabrani dalam Al-Kabir dan Al-Bizar, dan Ibnu Abi Syaibah dan lainnya)
  2. Mengapresiasi langkah sigap aparat kepolisian yang segera bertindak dan meringkus pelaku penyerangan. Kami mendorong aparat untuk mengusut tuntas tindakan kekerasan tersebut. Aparat harus mengusut tuntas sekaligus mengungkap apa motif yang melatarbelakangi penyerangan tersebut.
  3. Mengimbau kepada masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpancing serta tidak terprovokasi. Kita harus selalu menghormati dan memercayakan proses hukum pada aparat penegak hukum.
  4. Mendorong tokoh dan pemuka agama untuk menyampaikan pentingnya tenggang rasa, tepo sliro, dan toleran terhadap sesama. Utamanya mendorong untuk menghargai perbedaan.

“Semoga Allah SWT senantiasa memberikan pertolongan dan perlindungan kepada kita semua,” tandas Helmy.(ISNU)

Sumber: NU Online

No Responses

Tinggalkan Balasan