Halaqah Pesantren se-Yogyakarta: Menangkal Radikalisme dan Terorisme

Senin, 22 Januari 2018
ISLAMNUSANTARA.COM, Yogyakarta – Pembahasan paham radikalisme dan terorisme masih menjadi isu hangat yang tak henti-hentinya dibicarakan. Paham yang menggerakkan masyarakat untuk bertindak kekerasan itu terus menjamur. Merespons hal tersebut, Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Daerah Istimewa Yogyakarta mengadakan halaqah di Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta, Sabtu (20/1/2018).

Ketua Umum FKPP Daerah Istimewa Yogyakarta Habib A Syakur menyatakan bahwa forum tersebut dibuat untuk melakukan komunikasi antarpondok pesantren. FKPP menampung semua pondok pesantren yang berada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sebagai sebuah lembaga yang tidak mengikat, FKPP tidak bisa mengintervensi pondok pesantren. Tetapi, ia memberikan pemahaman tentang bahayanya radikalisme dan terorisme.

“Memahamkan radikalisme,” katanya.

Pembina Pesantran Muhammadiyah di Gunung Kidul Muhammad Chirzin menyatakan bahwa orang Islam itu harus lemah lembut. Ia merujuk pada kalimat tengah Alquran, walyatalatthaf.

“Jantung Alquran adalah walyatalatthaf. Itu kata-kata yang ada di tengah-tengah Alquran. Artinya maka berlaku lemah lembutlah,” ujarnya.

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Assalafiyah Mlangi Irwan Masduqi menyatakan bahwa kitab yang menjadi referensi para kiai dalam mengajarkan Islam kepada para santrinya ternyata tidak berbeda dengan kitab yang dirujuk oleh pelaku-pelaku radikal. Lalu apa yang membedakannya sehingga prinsip bernegara mereka berbeda?

Pria yang akrab disapa Gus Irwan itu mengatakan bahwa kiai sudah melakukan dekonstruksi wacana atau kontekstualisasi dan aktualisasi turats.

Adapun Pengurus Persatuan Islam Yogyakarta Indra Fajar Nurdin menyampaikan bahwa pesantren selalu mencarikan solusi atas segala permasalahan yang mengganggu masyarakat. Pesantren memberikan rasa aman sehingga sudah sepatutnya pesantren menjadi benteng dari perilaku radikal dan teror.

“Pesantren menjadi pusat yang membentengi masyarakat dari radikalisme dan terorisme,” katanya.

Dalam halaqah yang mengangkat tema “Peran Pesantren dalam Menangkal Radikalisme dan Terorisme” itu, Wakil Rektor Universitas Cokroaminoto Nasruddin menyatakan bahwa pesantren harus memberikan sosialisasi ke masyarakat melalui pengabdian-pengabdiannya.“Ada pengabdian di daerah-daerah sembari memberikan sosialisasi tentang paham yang benar,” katanya.

Kegiatan ini dihadiri oleh ratusan santri dan ustaz di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Meskipun suasana diguyur hujan sejak pagi, para peserta memenuhi ruangan, bahkan beberapa di antaranya harus rela duduk di luar ruangan. Antusiasme masyarakat santri Yogya sangat luar biasa patut diapresiasi. (Isnu)

Sumber: Harakatuna

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: