Gus Yusuf: Ciri Khas Pesantren Adalah Cinta Kasih

Kamis, 19 Juli 2018
ISLAMNUSANTARA.COM, Jakarta – Pengasuh Pondok Pesantren Tegalrejo, Magelang, KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) menjelaskan bahwa ciri khas pendidikan pondok pesantren adalah mengedepankan cinta kasih dan suri tauladan yang baik.

Ia mencontohkan jika ada seorang pendidik merasa jengkel kepada peserta didik atau santrinya maka langkah yang terbaik adalah dengan mendoakan dan mengirimkan fatihah kepadanya. Langkah seperti inilah yang akan memunculkan ikatan batin dan rasa cinta kasih kepada mereka.

“Itulah ciri khas pendidikan pesantren. Ciri khas pendidikan pesantren itu didasari dengan cinta kasih,” tegas Gus Yusuf dikutip dari video di Gus Yusuf Channel, Rabu (18/7).

Ia pun mengisahkan sebuah contoh bagaimana seorang kiai memberikan peringatan kepada peserta didiknya untuk tidak melakukan pelanggaran agar mampu menjadi pribadi yang lebih baik. Ia merujuk kepada kisah yang terdapat pada buku yang berjudul “Petuah Bijak dan Kisah Inspiratif Ulama Salaf Nusantara”.

Kisah itu terjadi di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur, saat ada salah seorang santri yang suka keluar malam. Ia selalu lolos dari pengawasan pengurus pondok. Anehnya, justru KH Abdul Karim mengetahuinya.

“Lantas beliau menulis pada secarik kertas dengan tangannya sendiri, Kula mboten remen santri ingkang remen miyos (Saya tidak suka santri yang suka keluar). Tulisan tersebut kemudian beliau tempelkan di bawah bedug,” lanjutnya.

Secara kebetulan, santri yang biasa keluar pondok tanpa izin itu ternyata pada malam harinya memilih tidur di bawah bedug. Betapa kagetnya santri itu, ketika membaca sebuah tulisan persis di depan matanya. Dia sangat mengenali tulisan itu, yang menulisnya adalah Mbah Kiai Abdul Karim. Yang selama ini dianggapnya tidak mengetahui kelakuannya selama ini.

“Setelah peristiwa menakjubkan pada malam itu, santri itu insaf. Dia tidak lagi keluar pondok pada malam hari. Kita mungkin tidak sanggup meniru persis cara Mbah Abdul Karim. Tetapi kita bisa meneladani kebijaksanaan dan kearifan beliau. Murid atau anak yang nakal, mendidiknya tidak dilakukan dengan kekerasan dan pemaksaan. Melainkan dengan kasih sayang dan do’a,” ungkapnya.

Dari kisah ini Gus Yusuf mengingatkan bahwa pemaksaan dalam kadar tertentu memang akan menghasilkan tindakan seperti yang diinginkan si pemaksa. Tetapi pada saat yang bersamaan ia memantik bara api yang akan menjadi sumber bencana di waktu yang akan datang.

“Orang-orang yang terpaksa mengikuti dan melayani paksaan akan kehilangan rasa hormat kepada pemaksa. Seorang guru akan kehilangan kehormatan dari muridnya. Seorang bapak akan kehilangan bakti anaknya. Seorang suami akan kehilangan cinta istrinya,” pungkasnya. (ISNU)
Sumber: NU Online

No Responses

Tinggalkan Balasan