Belajar Toleransi dan Menghargai Masa Lampau dari Ritual Haji

Minggu, 10 September 2017

ISLAMNUSANTARA.COM – Terdapat banyak cara untuk memaknai haji sebagai ritual tahunan yang kolosal ini. Haji bisa dimaknai sebagai simbol persatuan dan etos egalitarianisme Islam.

Dalam ritual ini, umat Islam dari seluruh penjuru dunia berbondang-bongdong ke satu tempat, dengan busana sederhana, dengan warna yang simpel. Unity and simplicity. Itu salah satu cara yang mungkin untuk menafsirkan makna haji.

Haji juga bisa dibaca sebagai simbol kembalinya umat Islam ke “rumah primordial”, ke kampung halaman mereka. Haji adalah sejenis mudik spiritual, karena umat Islam kembali ke rumah yang dulu didirikan oleh Ibrahim, pendiri agama tauhid.

Melihat jutaan umat Islam menuju ke sebuah titik sentral adalah pemandangan yang menakjubkan. Seperti debu-debu yang ditarik ke medan magnet yang menjadi pusat. Debu-debu itu seperti disedot untuk kembali ke tempat asalnya.

Tetapi saya mau memaknai haji dengan cara lain. Saya akan membaca haji sebagai sebuah kritik. Ritual tahunan ini sebetulnya merupakan kritik terhadap dua gejala dalam masyarakat Islam sekarang.

Masa lampau diusir jauh-jauh dari kota Mekah, digantikan oleh segala hal yang paling modern, yang paling mutakhir.

Pertama, haji adalah kritik terhadap sikap umat Islam saat ini yang cenderung eksklusif dalam beragama. Haji adalah ritual yang, dalam kepercayaan umat Islam, dimaksudkan untuk “re-enact” atau mengalami kembali peristiwa yang dialami oleh Nabi Ibrahim dulu, nabi yang menjadi bapak tiga agama monoteis besar – Yahudi, Kristen, dan Islam sendiri. Ibrahim adalah kanopi atau payung besar yang menjadi tempat bernaung tiga agama itu.

Ritual haji mestinya membuat umat Islam ingat kembali Ibrahim sebagai bapak tiga agama monoteis itu. Ritual ini seharusnya mengingatkan bahwa agama mereka bersumber dari “nenek moyang teologis” yang sama dengan dua agama besar lain: Yahudi dan Kristen. Karena itu, sudah semestinya ritual haji membuat umat Islam mengulurkan tangan dialog kepada dua agama itu.

Yang terjadi sekarang, seperti Anda tahu, justru sebaliknya. Sekarang ini, di tanah air, kita jumpai sejumlah tendensi intoleransi yang besar kepada pengikut Kristen, terutama dalam bentuk kesulitan-kesulitan pembangunan rumah ibadah yang dialami oleh teman-teman pemeluk agama itu. Saya tahu, umat Islam mengalami kesulitan yang sama di sebuah tempat di Papua. Tetapi yang dialami oleh umat Kristen jauh lebih besar “magnitude”-nya.

Dengan kata lain, ibadah haji mestinya, sekali lagi mestinya merupakan momen ketika umat Islam belajar untuk membangkitkan ingatan kembali tentang Ibrahim sebagai “kakek” yang mempersatukan mereka dengan dua agama lain yang selama ini kerap menjadi sasaran kecurigaan mereka. Saya bayangkan, alangkah keren-nya manakala bulan-bulan haji juga diramaikan dengan seminar dan acara dialog antar agama, terutama Islam-Kristen-Yahudi, di Arab Saudi atau di negeri-negeri Muslim yang lain.

Ritual korban, kita tahu, berasal dari kisah pengorbanan Ibrahim atas puteranya. Dalam versi Kristen, putera itu ialah Ishaq. Dalam Islam, Ismail. Buat saya tak penting mana yang dikorbankan. Yang jauh lebih penting ialah peristiwa korban itu sendiri sebagai momen sejarah yang mempersatukan Islam dan Yahudi sebagai dua agama yang berasal dari sumber yang sama.

Kritik kedua adalah menyangkut bagaimana pemerintah Arab Saudi memperlakukan tanah suci umat Islam itu sekarang. Saya berpendapat bahwa haji adalah ritual napak tilas masa lampau. Setiap agama besar di manapun selalu berusaha keras untuk merawat masa lampaunya dengan penuh dedikasi. Masa lampau bukan sekedar peristiwa sejarah yang sudah berlalu untuk dikenang, tetapi, dalam agama, masa lampau punya makna yang lebih dalam lagi.

Masa lampau, bagi agama, adalah “a foundational moment”, kala atau waktu yang menandai berdirinya suatu bangunan. Yaitu bangunan kepercayaan yang belakangan menjadi agama. Dengan mengingat masa lampau, seorang beriman kembali kepada momen awal yang menjadi permulaan agama yang ia peluk itu. Ibadah haji adalah ziarah bukan saja ke tanah suci, melainkan juga ke waktu yang suci – yaitu waktu Ibrahim.

Di Yerusalem, saya melihat sejarah masih tergurat dengan begitu kuatnya di seluruh sudut kota. Sementara di Mekah, saya melihat sejarah itu pelan-pelan dihancurkan.

Tetapi, rezim yang berkuasa di Saudi sekarang tegak atas suatu pandangan keagamaan yang memusuhi masa lampau. Sekarang ini pemerintah Saudi sedang melakukan renovasi besar-besaran atas tanah suci Mekah. Proyek yang ambisius ini — mungkin dengan niat baik untuk mempermudah para jamaah haji melaksanakan ibadah di sana — membawa akibat sampingan yang destruktif.

Proyek renovasi ini telah menghancurkan situs-situs sejarah yang bertebaran di sekitar Masjidil Haram. Menurut Islamic Heritage Research Foundation yang berpusat di London, perluasan dan pembangunan kawasan Masjidil Haram telah menghancurkan 98% situs-situs sejarah dan keagamaan di Mekah.

Salah satu ilustrasi kecil saja: Rumah Sayyidina Hamzah, paman Nabi, dihancurkan pada 2014 untuk memberikan ruang bagi pembangunan sebuah hotel. Demikian menurut laporan yayasan dari London yang memantau situs-situs Islam itu. Pasar Seng yang terkenal itu, tempat para jamaah haji dari Indonesia berbelanja oleh-oleh sejak zaman dahulu kala, kini telah rata dengan tanah, digantikan bangunan modern.

Di seberang Masjidil Haram, tegak sebuah bangunan pencakar langit Mecca Royal Clock Tower. Di puncaknya, bertengger jam raksasa yang mirip dengan jam Big Ben yang bertengger di puncak Elizabeth Tower di London. Di dalam bangunan itu, terdapat hotel mewah, mall, dan fasilitas modern lainnya. Masa lampau diusir jauh-jauh dari kota Mekah, digantikan oleh segala hal yang paling modern, yang paling mutakhir.

Penghancuran situs bersejarah bukan hal baru di Saudi. Mazhab Islam yang dominan di negeri itu adalah Wahabisme. Inilah mazhab yang memiliki pandangan yang unik, dan sekaligus janggal, mengenai “tauhid”. Menurut mazhab ini, tauhid artinya bukan sekedar mengesakan Tuhan, tetapi memusuhi segala bentuk tindakan yang bisa dianggap syirik.

Syirik ialah menyekutukan barang-barang yang non-ilahiah dengan Tuhan dan menjadikannya sebagai obyek devosi/sesembahan. Bagi ulama Wahabi, merawat situs-situs sejarah, seperti makam dan rumah para sahabat, mengandung bahaya. Sebab, obyek-obyek itu bukan saja akan menjadi tempat kunjungan “wisata religi” (saya sangat tak suka dengan istilah “religi” sebetulnya; kenapa tak “wisata keagamaan” saja?).

Saat mengunjungi obyek-obyek bersejarah itu, umat Islam bisa saja terpeleset ke dalam tindakan syirik karena memberikan penghormatan yang berlebihan kepadanya. Inilah yang dikhawatirkan oleh para ulama Wahabi. Karena itu, mereka tak segan-segan melakukan pembongkaran situs-situs bersejarah yang terkait dengan Nabi, sebab mereka bisa menjadi tempat bersemainya syirik.

Protes terhadap historicocide atau pembunuhan sejarah oleh pemerintah Saudi ini sudah datang dari berbagai kalangan. Tetapi tampaknya tak dipedulikan. Di masa lampau, bahkan ada rencana penghancuran makam Nabi karena dikhawatirkan akan menjadi tempat pemujaan. Jikalau bukan karena protes ulama dari Indonesia, mungkin makam Nabi sudah rata dengan tanah. Protes atas rencana penghancuran makam Nabi itulah yang menjadi embrio berdirinya organisasi Nahdlatul Ulama pada 31 Januari 1926.

Haji mestinya adalah sebuah kritik atas kebijakan yang menghancurkan sejarah ini. Sebelum saya menunaikan haji beberapa tahun lalu, saya berkunjung terlebih dahulu ke Yerusalem, ke Masjidil Aqsa, kiblat pertama bagi umat Islam. Ada kontras antara Yerusalem dan Mekah. Di Yerusalem, saya melihat sejarah masih tergurat dengan begitu kuatnya di seluruh sudut kota. Sementara di Mekah, saya melihat sejarah itu pelan-pelan dihancurkan.

Saya tak tahu apakah para jemaah haji Indonesia merasakan keganjilan ini atau tidak? Ataukah mereka justru senang karena melihat kota Mekah disesaki hotel dan mall yang mewah, mirip dengan kota-kota besar di Indonesia yang dijejali oleh bangunan-bangunan modern?

Ataukah sejarah dalam bentuk bangunan fisik tak terlalu penting bagi umat Islam? Sebab dalam Islam sejarah tampaknya hanya dihargai sebagai sebuah dokumen tertulis dalam kitab? Historiografi Islam penuh dengan buku-buku sejarah yang tebalnya bukan main. Tarikh Tabari, misalnya. Atau Muruj al-Zahab-nya al-Masudi. Saya curiga, jangan-jangan umat Islam memang kurang terlalu peduli dengan bangunan. Sebab, bagi mereka yang penting adalah rekaman tekstual dalam bentuk “kitab”.

Sebab, peradaban Islam, seperti pernah diungkapkan oleh Prof. Nasr Hamid Abu Zayd, adalah peradaban teks (hadlarat al-nass). (ISNU)

Ditulis oleh Ulil Abshar Abdalla, seorang Intelektual Muslim Indonesia

Sumber: Harakatuna

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: