Alamsyah M Ja’far: Intoleransi Merupakan Bibit Radikalisme

Minggu, 12 Agustus 2018

ISLAMNUSANTARA.COM, Tangerang Selatan – Penulis buku (In)Toleransi: Memahami Kebencian dan Kekerasan Atas Nama Agama, Alamsyah M Ja’far mengatakan bahwa tidak semua orang yang bersikap intoleran akan berbuat tindakan-tindakan radikal, namun hampir setiap pelaku radikalisme adalah orang yang intoleran. Mereka yang bersikap intoleran biasanya tidak sampai pada kekerasan fisik, namun hanya kekerasan lisan (oral violance) saja. Sementara tindakan radikalisme atau kekerasan agama menyasar pada kekerasan fisik.

“Intoleransi itu jauh lebih sulit, karena ia bergerak dalam situasi yang kadang-kadang samar.” Kata Alamsyah dalam diskusi di Sekretariat Islam Nusantara Center (INC), Ciputat, Tangerang, Sabtu (11/8).

Lebih lanjut, Alamsyah mengatakan, intoleransi merupakan bibit dari tindakan-tindakan radikal atau kekerasan agama. Sehingga jika ingin menghilangkan radikalisme, maka intoleransi harus diberantas terlebih dahulu.

“Kalau mau mengatasi intoleransi, maka kita harus menyasar kebencian atau hatred,” jelasnya.

Menurut Alamsyah, kekerasan agama atau radikalisme atas nama agama di banyak tempat biasanya terjadi pada dua level. Pertama, struktural yaitu kebijakan negara terhadap pengelolaan konflik. Termasuk kebijakan negara yang dijadikan untuk mendiskriminasi kelompok tertentu yang berbeda seperti Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri tentang aliran sesat. Kedua, respon masyarakat sipil terhadap perbedaan yang terjadi di tengah mereka.

Kebencian, faktor utama penyulut intoleransi

Alamsyah M Ja’far mengatakan, kebencian (hatred) merupakan faktor utama dari sikap intoleransi. Dia mendasarkan pendapatnya itu pada sebuah penelitian yang dilakukan peneliti dari Universitas Standford, Eran Halperin.

Eran melakukan sebuah studi terkait dengan sikap intoleransi warga Israel. Ada tiga faktor utama yang diujikan, yaitu kebencian (hatred), perasaan takut (fear), dan perasaan terancam (threat). Pertanyaanya pun bervariasi, mulai dari boleh tidaknya warga non-Yahudi duduk di parlemen hingga menjadi perdana menteri Israel.

“Setelah diuji, faktor utama dari intoleransi adalah kebencian atau hatred terhadap kelompok tertentu,” kata Alamsyah. (ISNU)

Sumber: NU Online

No Responses

Tinggalkan Balasan